How Inflation Impacts Stocks and Bonds

Tentu kita semua mengenal inflasi. Penulis sendiri, yang sangat menyukai Hokben, mengalami sendiri dimana hoka hemat yang dulunya seharga 10 ribu rupiah saat 2008, sekarang berharga 26 ribu rupiah. Meski kita sangat familiar dengan inflasi, banyak dari kita yang memiliki pengetahuan terkait inflasi sekedar daya beli masyarakat dan harga barang di pasaran. Sebenarnya, inflasi juga memiliki pengaruh pada porto kita, dan dampaknya cukup signifikan.

Sebelumnya, perlu penulis sampaikan bahwa alokasi portofolio yang sangat umum diterapkan adalah persentase dari usia pada obligasi, dan sisanya pada saham. Sebagai contoh, bila anda berusia 30 tahun, maka porto anda memiliki komposisi 70% saham dan 30% obligasi. Sekarang, mari kita pelajari lebih dalam dampak dari inflasi pada nilai obligasi kita. Sebuah miskonsepsi yang sering beredar adalah kalau investasi obligasi bersifat aman karena nilainya yang stabil. Ini salah besar. Perlu anda ketahui kalau obligasi diperdagangkan pada pasar sekunder dengan nilai yang fluktuatif dari hari ke hari. Sebagai contoh, ketika BI rate kian turun hingga mencapai 3,75%, nilai obligasi semuanya naik cukup signifikan. Ingat, nilai obligasi adalah present value dari pembayaran semua kupon dan nilai pokok dimasa mendatang. Bila tingkat diskonto lebih rendah, maka present value tentu akan meningkat. Sebaliknya, ketika perekonomian suatu negara tidak stabil yang mengakibatkan tingkat inflasi cukup tinggi hingga double digit, maka nilai obligasi akan menurun. Tidak hanya itu, inflasi yang tinggi juga akan meningkatkan kecenderungan suatu perusahaan mengalami gagal bayar terhadap kupon obligasi. Sudah nilainya turun, risikonya naik lagi, sungguh luar biasa.

Inflasi vs ROE

Disisi lain, inflasi yang tinggi juga berpengaruh buruk terhadap income perusahaan, yang akan mempengaruhi harga saham. Meski perusahaan bisa menaikan harga produknya, namun inflasi juga menyebabkan kenaikan upah pegawai yang tidak diimbangi dengan kenaikan produktivitas, dan juga kebutuhan perusahaan akan modal baru dalam jumlah yang signifikan yang mengharuskan perusahaan untuk mengambil hutang baru. 

Oleh karena itu, kita harus mulai mempertimbangkan alternatif investasi bilamana inflasi bertumbuh cukup tinggi dimasa depan. Emas, yang cenderung naik disaat ekonomi kurang stabil, bukanlah opsi yang menarik karena merupakan aset non produktif. Akan tetapi, ada investasi produktif yang dapat menghasilkan return memuaskan yaitu Real Estate Investing, dimana kita membeli sebuah properti (bukan untuk dianggurkan), namun disewakan atau bahkan dibuat menjadi kos kos an sehingga menjadi aset produktif.. Lebih baik lagi, kita dapat mengambil pinjaman dari bank, sehingga kita hanya butuh modal untuk DP, renovasi, dan juga uang jaga jaga. Bilamana anda berminat, banyak video di youtube yang mengajarkan mengenai real estate investing.

Salam cuan,
Filbert















Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)