6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Anda sedang membaca artikel pertama dari seri "Value Investing". Untuk mengakses artikel lainnya, anda bisa klik link dibawah ini:

-Lesson 1: 6 Types of Company (Part 1)
-Lesson 2: 6 Types of Company (Part 2)
-Lesson 3: Financial Check Up
-Lesson 4: Metode Valuasi PER (Case Study TOTL)
-Lesson 5: Metode Valuasi PER (Case Study MTDL)
-Lesson 6: Metode Valuasi Net-Net (Case Study ADMG)
-Lesson 7: Metode Valuasi Asset Plays (Case Study BSDE)
-Lesson 8: Cyclical Opportunity (Case Study TBLA)
-Lesson 9: When to Sell & Money Management


Dalam berinvestasi, risk vs reward merupakan salah satu faktor paling penting. Idealnya, kita ingin berinvestasi pada saham bagus di harga rendah dikarenakan peluang saham tersebut naik menuju harga wajarnya sangatlah besar, bahkan bisa dibilang 90%. Namun, seiring kita berinvestasi di pasar modal kita kelak akan menyadari bahwa kita tidak bisa menggunakan ekspektasi yang sama untuk setiap perusahaan. Simplenya, bila kita mengharapkan blue chip untuk menjadi multibagger, maka kita akan ditertawakan dikarenakan hal tersebut peluangnya sangatlah kecil. Namun, ekspektasi tersebut menjadi mungkin bila kita bisa menemukan saham second liner atau third liner, yang prospeknya cerah dan kenaikan labanya signifikan contohnya EKAD yang pada tahun 2010-2020 mengalami kenaikan dari 120 menjadi 1200, dan WIKA yang pada tahun 2009-2016 naik dari 200 menjadi 3000 dimana saat itu BUMN konstruksi kelimpahan proyek pemerintah. Lantas, apa yang menjadi dasar kita dalam mematok ekspektasi return dan risiko dalam berinvestasi? Kalau penulis sendiri, saya selalu mengkategorikan emiten menjadi 6 jenis seperti berikut:


1. Slow Growers (SG)
Sesuai namanya, SG merupakan kategori untuk perusahaan dengan no more room to growth, dimana kenaikan penjualannya antara 5-10% per tahun, bila kita menghitung rata rata dari 5 tahun terakhir. Sebagai contoh, LPPF (2016-2020) dimana perusahaan telah melakukan ekspansi jor jor an selama 2010-2015 sehingga membuka cabang baru pada lokasi strategis menjadi semakin sulit. Selain itu, UNVR (2016-2020) juga masuk ke kategori ini. Lantas, bila sebuah perusahaan sudah sulit untuk berkembang, apa alasana kita untuk berinvestasi di kategori ini? Penulis sendiri kurang tertarik pada SG, namun siapa tau anda tertarik berikut adalah ciri ciri SG yang baik. Yang pertama adalah perusahaan stabil dimana produk yang dijual memiliki harga yang stabil. Yang kedua adalah hutangnya yang kecil, dimana modified DER, yaitu rasio hutang berbunga terhadap ekuitas, harus dibawah 40%. Yang ketiga adalah dividend payout ratio yang besar, yaitu di kisaran 70-100% dikarenakan bila perusahaan sudah tidak butuh menggunakan uang untuk ekspandi usahanya, maka idealnya labanya dibagikan ke para investor. Untuk kategori SG, bila kita masuk diharga rendah, kita bisa expect capital gain 7% dan juga dividend 3% per tahun.

Slow Growers, Stalwarts, Fast Growers

2. Stalwarts (ST)
Berbeda dengan kategori sebelumnya, perusahaan ST merupakan perusahaan yang sudah besar, namun masih memiliki room to grow, dimana kenaikan penjualannya antara 10-20% per tahun. Kenaikan penjualan dapat dicapai dengan 3 cara yaitu dengan launching produk baru, peningkatan kuantitas penjualan produk yang sudah ada, atau dengan menaikan harga jual. Sebagai contoh, TLKM yang diuntungkan dengan peningkatan kebutuhan internet dan konektivitas, ICBP yang ingin menggarap semakin banyak pangsa pasar melalui akuisisi Pinehill nya, dan GGRM yang dapat memaintain penjualan batang rokok meski perusahaan terus menaikan harga jualnya. Ciri ST yang baik adalah modified DER maksimal 100% dan juga dividend payout ratio di kisaran 30-70%. Bila dividend yang dibagikan terlalu besar, maka perusahaan akan terbatas dalam melakukan ekspansi kedepan. Itulah alasan penulis pribadi kurang menyukai TLKM yang memiliki DPR di kisaran 80-90%. Untuk kategori SG, bila kita masuk diharga rendah, ekspektasi keuntungan yang bisa kita harapkan adalah 15-25% per tahun. Penulis sendiri lumayan suka dengan saham kategori ini, terutama GGRM dan MTDL.


3. Fast Growers (FG)
Kategori ketiga adalah fast grower, yaitu perusahaan yang selama 5 tahun terakhir konsisten membukukan kenaikan revenue diatas 20% setiap tahunnya. Sebagai contoh, WSKT pada tahun 2010-2018 yang mendapatkan banyak proyek membangun tol, pembangkit listrik, dan pelabuhan. Selain itu, LPPF saat 2010-2015 juga merupakan fast grower dimana perusahaan dapat secara efektif melakukan ekspansi bisnis. Namun, kedua contoh diatas merupakan contoh dimasa lalu, dimana kita harus ingat kalau sesuatu dapat bertahan diatas selamanya, pasti ada kalanya industri tersebut cooling down dan perusahaan akan berubah menjadi kategori ST ataupun SG. Dengan pertimbangan tersebut, perlu kita sadari kalau ketika bisnis sedang bagus, perusahaan seringkali melakukan ekspansi secara masif dengan cara berhutang pada bank dan menerbitkan obligasi. Bila industrinya dapat tetap growing, memang betul keputusan tersebut akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan, ditandai dari kenaikan EPS yang drastis. Namun, ketika periode cooling down mulai terasa, perusahaan akan baru mulai terasa akan beratnya beban keuangan atas besarnya hutang mereka. Kalau tidak percaya, coba saja lihat apa yang terjadi pada laporan keuangan kedua emiten diatas beberapa tahun terakhir, berdarah darah dan sahamnya pun mengalami penurunan yang membuat kita pusing tujuh keliling. Karena itu, kelemahan dari berinvestasi di FG adalah sakit ketika jatuh. 

Namun, tentu bukan berarti kita harus menghindari kategori ini, namun kita harus dapat memilah company yang lebih cenderung aman. Dan tentunya, masalah akan dapat dihindari bila modified DER perusahaan dibawah 100%. Selain itu, kita harus keep updated akan industri dan prospek kedepan secara berkala. Untuk perusahaan FG, dividend payout ratio umumnya berada pada kisaran 0-30% dimana perusahaan sedang BU (butuh uang) untuk melakukan ekspansi. Untuk kategori FG, bila kita masuk disaat yang tepat, maka ekspektasi optimistis yang dapat diharapkan adalah multibagger, alias profit ratusan persen. Sebagai contoh, berita mengenai green energy dan mobil listrik merupakan angin sejuk bagi emiten tambang nikel, sehingga ANTM, INCO dkk memiliki potensi untuk menjadi FG dalam 5 tahun kedepan. Sayangnya, valuasi mereka secara PBV sangatlah mahal sehingga saya sendiri kurang berminat. Pilihan penulis untuk kategori ini adalah WIKA dan PMMP. Penulis cukup optimis pada 2022 WIKA akan dapat kembali membukukan kinerja seperti di tahun 2019 or even better mengingat budget APBN untuk konstruksi sebesar 400T (belum ditambah SWF yang diproyeksikan berada di kisaran 100-200T). Mengenai PMMP, yang merupakan eksportir udang yang customernya berada di US, Eropa, dan Jepang, pembangunan cold storage ke 8 yang akan beroperasi sebentar lagi akan meningkatkan kapasitas perusahaan kedepannya, belum lagi ditambah upaya hilirisasi produk yang sedang dikembangkan perusahaan.

Sekian untuk ketiga jenis pertama. Dikarenakan artikel ini sudah panjang, ketiga kategori lainnya akan dilanjutkan pada artikel berikutnya. Sehat selalu and stay productive!

Salam cuan,
Filbert


Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)