Peluang Profit dari Sektor Konstruksi (Lesson 1: Introduction and Business Process)

Anda sedang membaca artikel pertama dari seri "Peluang Profit dari Sektor Konstruksi". Untuk mengakses artikel lainnya, anda bisa klik link dibawah ini:

-Lesson 1: Introduction and Business Process
-Lesson 2: Leading Indicators and Prospects
-Lesson 3: Case Study WSKT
-Lesson 4: Case Study WIKA
-Lesson 5: Case Study WEGE


Setelah menyelesaikan seri value investing dan seri sektor properti, dalam beberapa artikel kedepan penulis akan membahas lebih dalam mengenai sektor properti, yang tentunya saat ini sedang undervalue dan menawarkan peluang profit yang menarik. Setelah mengalami kenaikan ratusan persen pada akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021 dikarenakan sentimen SWF, sejak bulan Februari emiten konstruksi terus mengalami penurunan hingga saat ini bisa dikatakan undervalue. Diluar WSKT (yang pada tahun 2020 rugi besar-besaran sehingga ekuitasnya terkuras setengah), mayoritas emiten konstruksi saat ini dihargai dibawah nilai bukunya, seperti WIKA (0,75x), PTPP (0,62x), ADHI (0,59x). Dan bila anda sealiran dengan penulis, hal tersebut merupakan kabar bagus dimana bila memang perusahaan memiliki fundamental baik dan prospek cerah, maka saat ini kita sedang diberikan kesempatan untuk mengakumulasi diharga diskon. Oleh karenanya, mari kita bersama menggali lebih dalam mengenai sektor konstruksi.


Sektor konstruksi berkontribusi terhadap 10% GDP negara dan menyerap 10 juta tenaga kerja. Kita dapat membagi emiten konstruksi menjadi 2 berdasarkan proyeknya. Yang pertama adalah emiten konstruksi BUMN (WSKT, WIKA, ADHI, PTPP) yang umumnya membangun infrastruktur seperti bandara, jalan tol, bendungan, dan MRT / LRT. Proyek mereka umumnya berasal dari pemerintah / BUMN, menggunakan sistem pembayaran turnkey, dan memiliki durasi umumnya >3 tahun. Yang dimaksud dengan turnkey adalah perusahaan baru akan menerima pembayaran secara keseluruhan ketika proyek yang dikerjakan telah 100% selesai, dan harus menggunakan modal sendiri (dengan berhutang pada bank atau menerbitkan obligasi) untuk membiayai biaya selama proyek berlangsung. Hal tersebut mengakibatkan emiten konstruksi BUMN semuanya memiliki Debt to Equity Ratio (DER) yang tinggi, sebagai referensi: WSKT (11,7x), WIKA (3,32x), PTPP (3,85x), dan ADHI (6,00x).



Yang kedua adalah emiten konstruksi swasta (TOTL, WEGE) yang umumnya membangun gedung hotel, perkantoran, mall, dan apartemen. Proyek mereka mayoritas berasal dari swasta, menggunakan sistem pembayaran termin, dan memiliki durasi 1-2 tahun. Berbeda dengan emiten konstruksi BUMN yang dibayar diujung, sistem pembayaran termin berarti perusahaan akan menerima pembayaran secara bertahap, sesuai dengan progress pembangunan proyek yang dikerjakan. Akibtanya, emiten konstruksi swasta lebih sehat secara keuangan dengan DER TOTL (1,32x) dan WEGE (1,54x).


Secara industri, sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan signifikan pada tahun 2014-2019. Hal tersebut dapat kita perhatikan dari anggaran APBN infrastruktur, yang mengalami kenaikan signifikan dari tahun ke tahun. Bahkan untuk tahun 2020, pemerintah pada awalnya menganggarkan 423T untuk pembangunan infrastruktur, meskipun yang terealisasi hanya sebesar 218T dikarenakan terjadinya pandemi. Kabar baiknya, pemerintah masih peduli dengan pembangunan infrastruktur, yang dapat kita lihat melalui APBN 2021 (417T) dan RAPBN 2022 (385T). Anggaran yang semakin besar berarti semakin banyak proyek pembangunan dan sebaliknya. Itulah sebabnya kebijakan pemerintah sangatlah berperan dalam perkembangan emiten konstruksi kedepannya. 


Mengenai proyek itu sendiri, mari kita bahas mengenai bisnis proses emiten kosntruksi. Pertama pada tahap prakualifikasi, pemberi proyek akan melakukan undangan tender kepada perusahaan konstruksi untuk melakukan rapat penjelasan terkait proyek yang akan dilakukan. Selanjutnya, perusahaan yang tertarik akan melakukan peninjauan lapangan sebelum memberikan penawaran. Terakhir, akan dilakukan evaluasi tender untuk menetapkan pemenang proyek, dan bila tidak ada sanggahan maka kontrak akan ditandatangani. Perolehan kontrak baru tersebut dapat kita jadikan patokan dalam memproyeksikan kinerja perusahaan dimasa depan. Penulis sendiri rutin mengecek website WIKA untuk melihat perkembangan kinerja dan perolehan kontrak baru perusahaan yang diupdate setiap bulannya. 


Sekian untuk artikel kali ini. Pada artikel berikutnya, penulis akan membahas mengenai istilah yang perlu diketahui, leading indicator, serta prospek sektor konstruksi. Semoga artikel tersebut dapat bermanfaat.


Salam Cuan,

Filbert



Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023