Peluang Profit dari Sektor Konstruksi (Lesson 5: Case Study WEGE-Final)

Anda sedang membaca artikel kelima dari seri "Peluang Profit dari Sektor Konstruksi". Untuk mengakses artikel lainnya, anda bisa klik link dibawah ini:

-Lesson 1: Introduction and Business Process
-Lesson 2: Leading Indicators and Prospects
-Lesson 3: Case Study WSKT
-Lesson 4: Case Study WIKA
-Lesson 5: Case Study WEGE


Penulis pertama melirik WEGE ketika Desember 2020. Pada saat itu sahamnya bernilai 200 yang melambangkan PBV 1x. Penulis pada saat itu menyimpulkan kalau WEGE merupakan perusahaan konstruksi paling sehat (DER nya kecil dibanding perusahaan konstruksi lain) dan memutuskan untuk masuk, sebelum menjualnya 1 bulan kemudian pada harga 280 (dana nya dipindahkan ke LINK yang akhirnya profit banyak juga). Fast forward beberapa bulan kemudian dan sekarang WEGE kembali dihargai 210 yang melambangkan PER 10x dan PBV 0,9x. Meski kinerjanya belum recover, namun kinerja WEGE ini juga tergolong tidak buruk bila dibandingkan emiten konstruksi lainnya. Manajemen sendiri optimis mereka dapat melampaui target laba 230M yang bilamana hal itu terjadi PER WEGE diharga sekarang akan menjadi 8,7x. Pertanyaannya sekarang, apakah sekarang saat yang bagus untuk mengoleksi saham ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita pelajari bersama.

 

PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung (WEGE) merupakan anak usaha WIKA yang khusus bergerak di bidang konstruksi gedung kantor, apartemen, hotel, dll. WEGE didirikan pada tahun 2008 dan melantai di bursa efek pada tahun 2017. Beberapa proyek yang dikerjakan WEGE adalah Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Thamrin Office Tower, The Accent Condominium, dan Jakarta Internasional Stadium. Selain berfokus pada konstruksi bangunan, sekarang WEGE juga mengurus pre cast dan juga modular seperti toilet, villa, stacking building yang diharapkan bisa didistribusikan secara massal. Contohnya adalah pulau merah dan rinjani center modular project. Segmen modular sendiri menyumbang 18% nilai kontrak baru di tahun 2021. WEGE juga sekarang befokus pada konsesi dimana perusahaan mengembangkan aset pemerintah dan BUMN seperti bandara, RS, dan perkantoran (contohnya De Braga dan Mandiri Proklamasi) dengan skema investasi untuk mendapatkan recurring income. Kedepannya, WEGE sendiri menargetkan untuk menjadi perusahaan konstruksi kelas dunia di tahun 2023.



Sekarang mari kita ulas dari segi new contract, order book, dan usia proyek. Hingga Agustus 2021 WEGE baru meraih kontrak baru senilai 1,64T, yang melambangkan 38% dari target 2021 yaitu 4,22T. Perusahaan saat ini memiliki order book 12,7T. Bila kita menggunakan asumsi revenue 3,3T maka usia proyek WEGE yang 3,85 tahun masih tergolong aman. Untuk prospek tahun 2022, sayangnya penulis sendiri tidak terlalu optimistis terhadap prospek WEGE, dimana penulis merasa kinerjanya tidak akan jauh berbeda dibanding tahun 2020 dan 2021, dengan perkiraan revenue 3,3T dan net profit 270M (EPS 28). Menariknya lagi, dibandingkan WIKA dkk yang memiliki DER diatas 300%, WEGE sendiri memiliki DER 150% yang berarti perusahaan jauh lebih sehat secara keuangan. 



Sebagai kesimpulan, WEGE pada posisi saat ini (210/ lembar) masih boleh dikejar. Dan seperti yang kita tahu, sebentar lagi bulan Desember dimana emiten konstruksi memiliki 2 sentimen positif. Yang pertama adalah window dresssing itu sendiri yang berpotensi mengerek naik harga sahamnya. Yang kedua dalah trend emiten konstruksi yang hampir selalu membukukan pendapatan dan laba signifikan di kuartal 4 seiring dengan dikebutnya penyelesaian proyek guna menerima termin pembayaran dari customer. Dan terakhir penulis menilai bahwa harga wajar WEGE saat ini berada di angka 300 dan risiko saat ini bisa dibilang rendah. Semoga kelima artikel seri konstruksi ini bermanfaat dan sampai jumpa di kesempatan berikutnya.


Salam Cuan,

Filbert

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)