Peluang Profit dari Sektor Konstruksi (Lesson 4: Case Study WIKA)

Anda sedang membaca artikel keempat dari seri "Peluang Profit dari Sektor Konstruksi". Untuk mengakses artikel lainnya, anda bisa klik link dibawah ini:

-Lesson 1: Introduction and Business Process
-Lesson 2: Leading Indicators and Prospects
-Lesson 3: Case Study WSKT
-Lesson 4: Case Study WIKA
-Lesson 5: Case Study WEGE


Bila anda memegang saham konstruksi, tentu 2 bulan terakhir anda tidur pulas dan sering bermimpi indah. Saya sendiri ada pegang WIKA di average 967, dan pada saat ini sudah mengalami floating profit 50% dalam waktu yang cukup singkat (saya masuk diakhir Juni). Dan seperti yang anda tahu, ketika harga suatu saham naik cukup signifikan, pada saat itu jugalah kita harus memikirkan when to sell. Saya pribadi akan hold WIKA sampai harganya diatas 1800 (PBV 1,17) baru mungkin lepas secara bertahap (jual setengah dulu, lalu nanti baru jual sisanya). Lantas, apa yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih WIKA pada saat itu? Sesuai janji saya pada artikel sebelumnya, pada lesson 4 ini, kita akan mempelajari emiten WIKA. Silahkan dinikmati.


PT. Wijaya Karya (WIKA) berdiri pada tahun 1960 dan melakukan IPO pada tahun 2007. WIKA berperan sebagai salah satu perusahaan engineering, procurement, and construction (EPC) terbesar di Indonesia dan memiliki 4 segmen usaha yang terdiri dari: 1) Industry, 2) Infrastructure & Building, 3) Energy & Industrial Plant, 4) Realty & Property. Track record WIKA sangatlah baik, dimana perusahaan telah membangun 632 km jalan tol, 40 bendungan, 16 bandara, dan 14.760 MW power plant di Indonesia. Saat ini, perusahaan tengah membangun Jalan Tol Serang-Panimbang, Megaproyek Kereta Cepat Jakarta Bandung, Bandara Internasional di Makassar, dan Power Plant di Sulawesi Selatan. Selain bisnis utamanya, WIKA juga memiliki beberapa anak usaha seperti WTON, WEGE, dan WIKA Realty sehingga bisnisnya tergolong hulu ke hilir.


Namun seperti yang kita ketahui, pandemi covid lumayan berdampak pada kinerja perusahaan. Pada tahun 2020, pendapatan WIKA turun dari 27,2 T menjadi 16,5 T, yang mengakibatkan EPS perusahaan turun dari 255 menjadi 21. Penurunan pendapatan tersebut dikarenakan beberapa alasan antara lain; terhambatnya pengerjaan proyek di lapangan, request pemberi proyek untuk menunda pengerjaan, dan penurunan realisasi anggaran infrastruktur. Meskipun begitu, pencapaian perusahaan yang tetap bisa membukukan laba dikala pandemi sendiri merupakan sebuah pencapaian. Untuk tahun ini, sayangnya kita belum bisa berharap banyak dikarenakan kinerja semester 1 WIKA yang masih belum menunjukan perbaikan, dan PPKM pada kuartal 3 yang cukup lama mengakibatkan pengerjaan proyek belum bisa maksimal. Dari segi neraca keuangan WIKA tergolong paling mending bila dibandingkan dengan BUMN karya lainnya, dengan modified DER (gearing ratio) diposisi 1,6x dan DER diposisi 3,3x. Penulis sendiri tidak berharap banyak terhadap kinerja WIKA ditahun 2021. Harapan kedepan adalah EPS WIKA di tahun 2022 dapat recover ke area 150 an, dan dapat kembali menuju 250 di tahun 2023.


Prospek masa depan WIKA tergolong cerah, terlihat dari berbagai leading indicator. Pertama, perusahaan berhasil menggarap kontrak baru senilai 12,7 T selama periode 8M 2021. Angka tersebut naik drastis bila dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 4,9 T. Manajemen sendiri optimis dengan target perolehan kontrak baru hingga akhir tahun senilai 35 T. Kedua, order book perusahaan saat ini berada pada posisi 79 T, dimana angka tersebut melambangkan usia kontrak pada batas aman (4 tahun). Manajemen juga menargetkan order book diakhir tahun berada diatas 100 T. Bila berbicara long term (5 tahun), WIKA sendiri memiliki potensi sangat besar terkait Proyek Strategis Nasional (PSN), dimana pemerintah Indonesia (seperti pemerintah negara lain) memiliki target tinggi terhadap perkembangan infrastruktur dalam negeri, melalui rencana 201 proyek dengan estimasi nilai investasi 4800 T. 


Sebagai penutup, belum lengkap rasanya bila kita belum membahas dampak SWF terhadap perusahaan. Sampai dengan saat ini perseroan belum memiliki rencana untuk melakukan divestasi pada INA (Indonesia Investment Authority). Hal ini dikarenakan perseroan belum mengetahui dengan jelas apa saja target portfolio yang akan disasar oleh INA. Namun terkait dengan rencana divestasi kepada pihak lain, perseroan sampai akhir tahun akan melepas salah satu penyertaan pada bidang Pelabuhan di Sumatera Utara. Sehingga, dapat disimpulakan kalau keberadaan SWF sampai saat ini belum berdampak secara langsung kepada WIKA mengingat perusahaan tidak mempunyai banyak proyek investasi untuk di divestasikan. Namun kedepannya, WIKA akan tetap menyasar proyek investasi dengan skema quick win project yang memiliki NPV dan IRR yang tinggi.


Sekian untuk artikel kali ini. Pada artikel berikutnya, penulis akan membahas mengenai salah satu emiten konstruksi yang mayoritas projectnya berasal dari swasta, yang kebetulan juga merupakan anak usaha dari WIKA. Apalagi kalau bukan WEGE. Semoga rejeki ada disisi kita dan sampai jumpa pada kesempatan berikutnya.


Salam Cuan,
Filbert








Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023