6 Types of Company (Value Investing: Lesson 2)

Anda sedang membaca artikel kedua dari seri "Value Investing". Untuk mengakses artikel lainnya, anda bisa klik link dibawah ini:

-Lesson 1: 6 Types of Company (Part 1)
-Lesson 2: 6 Types of Company (Part 2)
-Lesson 3: Financial Check Up
-Lesson 4: Metode Valuasi PER (Case Study TOTL)
-Lesson 5: Metode Valuasi PER (Case Study MTDL)
-Lesson 6: Metode Valuasi Net-Net (Case Study ADMG)
-Lesson 7: Metode Valuasi Asset Plays (Case Study BSDE)
-Lesson 8: Cyclical Opportunity (Case Study TBLA)
-Lesson 9: When to Sell & Money Management


Melanjutkan dari artikel sebelumnya, di kesempatan kali ini kita akan mempelajari ketiga kategori perusahaan lainnya. Bila kemarin kita membahas tentang company yang masih bertumbuh, meski kecepatan pertumbuhannya berbeda beda, hari ini kita akan membahas company yang tidak bertumbuh, entah itu karena faktor perusahaannya atau memang industrinya yang tidak bertumbuh. Mungkin sebagian dari anda mempertanyakan apakah berinvestasi di perusahaan yang tidak bertumbuh merupakan opportunity yang bagus? Jawabannya adalah sangat menarik, asalkan kita dapat mengetahui kapan untuk membeli dibawah harga diskon dan dapat bersabar. Diskon besar besaran cukup sering ditemui pada ketiga kategori perusahaan ini. Tanpa berlama lama, mari kita masuk ke materi hari ini:


4. Cyclical (C)

Perusahaan pada kategori ini menghasilkan revenue dari menjual komoditas, yaitu barang yang tidak bisa dibedakan dengan barang sejenis lainnya. Sebagai contoh, perusahaan batubara, CPO, minyak mentah, dan emas termasuk dalam kategori ini. Karakteristik utama dari kinerja perusahaan cyclical adalah naik turun naik turun. Sebagai contoh, pada saat harga coal menembus 100 pada tahun 2011 dan 2018, maka perusahaan batu bara, baik yang berfundamental baik maupun buruk, beramai ramai membukukan laba yang sangat besar dan akibatnya harga sahamnya pun serentak beterbangan. Namun, what goes up must come down, dan hal tersebut juga berlaku pada harga batubara dkk. Ketika harga komoditas sedang berada di siklus bottom, maka laba perusahaan batubara akan menurun drastis, bahkan beberapa mengalami kerugian. Oleh karena itu, bila ingin berinvestasi di C, maka kita harus selektif dan hanya memilih perusahaan yang bisa survive dan tetap membukukan laba, bahkan disaat cycle sedang bottom. Modified DER <40% bersifat wajib dan untuk kategori ini pilihan penulis adalah PTBA dikarenakan kesehatan neraca, efisiensi perusahaanm dan margin laba secara long term yang jauh diatas perusahaan batubara lainnya. Ekspektasi yang bisa kita harapkan dari C adalah rich or die, dimana bila kita membeli di timing yang tepat, kita berpeluang mendapatkan bagger (profit 100%) dan bila kita membeli disaat harga sudah overvalued, kita berpeluang kehilangan at least 50% dari nilai investasi kita. Buy pada saat bottom dan sell pada saat peak cycle.


Cyclicals, Asset Plays, Turn Arounds


5. Asset Plays (AP)

Bila anda sudah mulai berinvestasi sejak tahun 2020, kemungkinan anda sudah tidak asing lagi dengan EMTK. Saham entah darimana ini, mengalami kenaikan dari 400 menjadi 2800 dari Juli 2020-2021, kenaikan 600% yang sungguh fantastis. Meski awalnya penulis mengira saham tersebut merupakan saham gorengan, setelah ditelaah lebih lanjut ternyata EMTK mempunyai mutiara terpendam berupa investasi pada Bukalapak. Pada akuntansi, nilai investasi yang dicatatkan pada laporan keuangan adalah berdasarkan cost atau harga perolehan. Padahal pada kenyataannya, bisa saja nilai suatu aset sudah jauh melebihi dari apa yang dilaporkan pada neraca. Itulah sebabnya kita sebut dengan istilah mutiara terpendam, karena tidak terlihat secara eksplisit, namun bilah kita telaah lebih lanjut kita akan menyadarinya. Mutiara terpendam secara umum dapat dibagi menjadi 3 jenis. Yang pertama adalah company yang memiliki investasi pada perusahaan lain seperti EMTK, atau bisa juga seperti INDF. Mengapa INDF termasuk dalam kategori AP? INDF sendiri merupakan perusahaan holding yang membawahi banyak anak usaha. Beberapa anak usahanya terdiri dari ICBP dengan persentase kepemilikan 80%, bisnis CPO yang terdiri dari SIMP dengan persentase kepemilikan 60% dan LSIP dengan 36%, bisnis tepung Bogasari dengan kepemilikan 100%, dan masih banyak lagi. Pada 24 Juli, market cap ICBP bernilai 100 T yang berarti 80% kepemilikan ICBP tersebut seharusnya dihargai pasar 80T. Seharusnya, pasar menghargai INDF lebih dari 80T dikarenakan membeli INDF berarti kita akan mendapatkan paket komplit yang terdiri dari berbagai anak usahanya tersebut. Namun anehnya, market cap INDF saat ini hanyalah 57T. Hal tersebut bisa diibaratkan kita ke restoran yang pada menunya tercantum harga burger senilai 100 ribu, namun bila kita membeli paket (burger, kentang, dan minuman) harganya hanya 57 ribu. Sungguh suatu keajaiban yang luar biasa.


Selain itu, jenis asset play yang kedua adalah emiten cash rich seperti HRUM dan MPMX. Penulis sendiri masih menyesali (dan sulit untuk move on) akan kesalahan tidak berinvestasi pada HRUM. Pada Agustus 2020, harga HRUM berada pada kisaran 1500 dengan market cap 4T. Namun, HRUM memiliki kas dan setara kas senilai 4T dan hutang yang sangat rendah. Hal tersebut bisa diibaratkan membeli Avanza senilai 200 juta dan didalam mobil tersebut terdapat uang tunai 200 juta dikursi belakang. Dan alhasil, pasar menyadari hal tersebut ditambah juga dengan sentimen mengenai nikel dan akhirnya HRUM dihargai pada 5800 saat ini. Sakit ini lebih sakit dibanding sakit hati. Untungnya, penulis cukup beruntung dan menyadari kesempatan serupa pada MPMX pada bulan Oktober kemarin disaat harganya masih 400 an. Meskipun kinerjanya yang mengharukan (bahkan pada Q1 2021 dimana emiten bisa dibilang membukukan kinerja bagus, ROE nya cuma 7,4% saja), penulis cukup yakin untuk masuk ke emiten yang satu ini dikarenakan PBV nya 0,3 kali, dan nilai cashnya yang senilai market cap nya. Dan akhirnya, saya berhasil mendapatkan profit 100% dalam waktu relatif singkat yaitu 8 bulan sebelum memutuskan untuk exit pada pertengahan Juni terakhir (jual di 705 dan menerima dividen 115).


Jenis asset play yang terakhir adalah emiten dengan land bank yang banyak, umumnya perusahaan properti. Perusahaan properti biasa membeli lahan diharga rendah dan melakukan pembangunan infrastruktur daerah sekitar, sebelum menjual kembali tanah tersebut dengan harga yang jauh diatas harga perolehan. Mungkin dilain kesempatan, saya akan membagikan mengenai study case valuasi PWON. Lantas apa yang bisa kita harapkan? Untuk emiten asset play, kuncinya adalah beli di harga wajar, dan sabar. Kita harus sabar hingga pasar menyadari mutiara terpendam yang ada pada perusahaan tersebut, yang biasanya ditandai bila mulai banyak berita positif mengenai perusahaan kita, dimana pada saat itu kita bisa expect untuk mendapatkan bagger.


6. Turnarounds (TA)

Pada akhirnya, kita sampai pada kategori perusahaan yang terakhir. Sesuai namanya yang berarti putar balik, TA melambangkan perusahaan yang saat ini kinerjanya sedang berdarah darah, namun memiliki harapan untuk membukukan perbaikan kinerja dimasa depan (bila masa depannya suram dan dilimpahi hutang juga seperti KRAS, GIAA kita tidak perlu susah susah  melakukan analisa lebih lanjut). Umumnya, perusahaan pada kategori ini industrinya sedang tertekan sehingga laba perusahaan juga ikut tertekan atau bahkan mengalami kerugian. Penulis sendiri lebih suka perusahaan dengan hutang berbunga rendah, dikarenakan beban bunga yang tinggi akan membebani perusahaan. Sebagai contoh, WIKA meskipun mengalami penurunan omset 40% pada tahun 2020, masih bisa membukukan laba meskipun sangat kecil. Coba anda bandingkan dengan WSKT yang terkenal sebagai tukang hutang, dimana pada tahun 2020, perusahaan membukukan laba bersih yang sangat besar dan mengakibatkan ekuitas perusahaan untuk turun sebesar 50% (bayangkan tiba tiba semua harta anda hilang setegahnya). Lantas, apakah berinvestasi di WIKA merupakan sebuah pilihan yang baik? Penulis sendiri cukup optimistis akan kinerja WIKA dimana sebenarnya bila anda membaca RAPBN 2021 kita (anda tinggal ketik RAPBN 2021 pdf di google), maka sekitar 20% budget pemerintah, yakni 400T dialokasikan kepada sektor konstruksi. Dan ini belum termasuk sentimen positif seperti SWF yang isunya lagi reda saja saat ini, dan ketika beritanya hangat kembali maka bisa saja WIKA naik lagi dari 1000 sampai 2360 dalam 3 bulan seperti yang terjadi pada awal tahun 2021.


Meskipun artikel kali ini lumayan panjang, penulis berharap banyak ilmu yang dapat anda dapatkan dan membantu karir perjalanan anda sebagai seorang value investor. Dalam beberapa saat kedepan, penulis akan memposting lanjutan dari seri value investing yang kemungkinan besar akan terdiri dari banyak artikel, bisa saja lebih dari 10 artikel yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Meski kondisi Covid 19 diluar sana sedang parah parahnya dan mungkin anda dipaksa untuk bekerja dari rumah, penulis ingin mengajak anda untuk sama sama menjadikan kesepatan ini untuk menambah ilmu kita dalam berinvestasi. The best investment you can make is in yourself. Sehat selalu dan sampai jumpa dilain kesempatan.


Salam cuan,

Filbert

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)