Metode Valuasi Saham DCF Part 1: FCF dan WACC

Dalam melakukan analisis suatu perusahaan, menentukan harga wajar perusahaan tersebut sangatlah penting. Metode valuasi yang paling umum digunakan, dan memang terbukti cukup efektif adalah Discounted Cash Flow. Metode ini memiliki tahapan sebagai berikut:

1. Mencari Free Cash Flow dan juga pertumbuhannya

2. Menentukan discount rate

3. Menentukan perpetual growth dan terminal value

4. Menentukan present value dan menghitung firm value


Namun, karena bisa dibilang cukup ribet, maka penulis akan membaginya menjadi 2 part. Di part ini, kita akan mempelajari cara menghitung free cash flow dan juga discount rate. Kita juga akan melakukan studi kasus pada GGRM berdasarkan laporan keuangan kuartal 3 2020.


Pertama, mari kita mulai dengan free cash flow. Ada banyak cara menghitung free cash flow, namun yang paling sederhana adalah FCF= Cash from Operations - Capex. Pada kasus GGRM, dikarenakan FCF nya berfluktuatif, maka lebih tepat kalau kita menggunakan rata rata 5 tahun terakhir yaitu sebesar 6T. Selanjutnya, kita akan mengasumsikan rate pertumbuhan FCF sebesar 8% untuk setiap tahunnya selama 10 tahun ke depan.

Untuk langkah selanjutnya, kita akan menghitung discount rate menggunakan metode WACC yang merupakan singkatan dari weighted average cost of capital, yang dihitung dengan rumus WACC= We.Re+ Wd*Rd*(1-T). We, yang merupakan singkatan dari weight of equity, bisa kita dapatkan dengan membagi market cap perusahaan dengan total. Disisi lain, Wd yang merupakan singkatan dari weight of debt, bisa kita dapatkan dengan membagi hutang berbunga perusahaan dengan total. Pada laporan keuangan perusahaan, kita dapat melihat kalau perusahaan telah melunasi sebagian besar dari hutangnya, dari yang bernilai 17,4T pada Desember 2019, menjadi hanya tinggal 1,2T. Disisi lain, kita dapat melihat kalau market cap perusahaan saat ini adalah 79,4T sehingga kita mendapatkan total 80,6T sebagai nilai total market value of firm's financing. Dari sini kita bisa menghitung nilai We yaitu 98,5% dan Wd sebesar 1,5%.


Langkah berikutnya adalah menghitung Re dan Rd. Untuk menghitung Re, kita akan menggunakan suatu rumus yang bernama Capital Asset Pricing Model, yang mengatakan kalau Re seharusnya bernilai Rf + (Rm-Rf)*beta. Rf disini berarti risk free rate, dimana kita akan memakai BI Rate sebesar 3,75%. Disisi lain, Rm adalah return dari IHSG secara long term dimana kita akan memakai rate 10%. Dan terakhir, beta menandakan seberapa besar korelasi pergerakan harga saham suatu emiten bila dibandingkan dengan IHSG, dimana dari Yahoo Finance kita bisa mendapati kalau GGRM memiliki beta 0,49. Dari sini, kita mendapatkan Re sebesar 6,9%. Berbeda dengan Re yang membutuhkan banyak kalkulasi, kita dapat langsung melihat Rd dari catatan kaki laporan keuangan perusahaan. Dari situ, tertulis kalau rata rata tertimbang bunga efektif adalah 6,1%. Sebagai tambahan, mengingat beban bunga akan mengurangi laba yang juga mengurangi besaran pajak yang akan perusahaan bayar, maka kita perlu mengalikan 1-T kepada perhitungan WACC kita nanti. Tarif pajak yang berlaku saat ini untuk korporasi adalah 22%.


Setelah menghitung angka angka diatas, kita akhirnya bisa menghitung WACC perusahaan yaitu 6,8% yang jujur saja merupakan sebuah angka yang sangat fantastis mengingat perusahaan pada umumnya memiliki WACC diatas 10%. Angka inilah yang akan digunakan dalam mendiskon projected future earnings perusahaan. Dikarenakan hari ini kita telah belajar banyak ilmu baru yang memang bikin kepala pusing, untuk selebihnya akan dilanjut pada part 2. Sekian dan terima kasih.

 

Salam cuan,

Filbert


Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023