Portofolio Defensive Investor

Seberapa besar risiko yang harus kita ambil dalam mengatur porto kita? Kebanyakan dari kita menggunakan risk profile dan juga faktor seperti usia, apakah memiliki tanggungan atau belum, dan banyak faktor lainnya. Namun, penulis memiliki pandangan yang berbeda. Seberapa agresif portofolio kita dan ekspektasi return yang diharapkan, harus ditentukan oleh knowledge dan juga willingness to learn. Secara umum, kita dapat mengklasifikasikan investor menjadi 2 yaitu defensive dan enterprising. Hari ini, kita akan membahas mengenai defensive investor, yaitu investor yang tidak mau ambil pusing, hanya tinggal memarkirkan dana, dan tidur tenang. Sebagai contoh, seorang dokter lebih cocok menjadi defensive investor, karena pekerjaannya kurang memungkinkan dia untuk melakukan analisa mendalam secara rutin. 


Sebagai dasar, seorang defensive investor disarankan untuk mengalokasikan tidak kurang dari 25% dan tidak lebih dari 75% dananya pada saham, dan sisanya pada obligasi. Alokasi 75% dilakukan bilamana sang investor merasa market sedang undervalue, sedangkan sebaliknya ketika market sedang overvalue. Investasi obligasi yang penulis sarankan adalah ABF Indonesia Bond Index Fund. Anda dapat membelinya melalui aplikasi Bibit dan prosesnya sangat simple dan cepat. Mengapa penulis menyarankan reksadana obligasi tersebut? Jawabannya simple, yaitu return yang memuaskan. Kalau anda ingat, di artikel sebelumnya penulis membahas kalau penurunan BI rate berdampak positif pada harga obligasi, dan tercermin dari return bond index fund tersebut yaitu 66% dalam 5 tahun terakhir dan 14% dalam 1 tahun terakhir, sungguh mengejutkan bukan? Disisi lain, AUM yang besar dan disertai expense ratio yang hanya 0,2% membuatnya menjadi instrumen yang sangat tepat bagi kita.


Berbeda dengan obligasi, dimana penulis menyarankan reksadana, untuk saham lebih disarankan agar kita melakukan analisa sederhana dan investasi sendiri, dibanding harus menaruh uang di reksadana saham yang kinerjanya so-so, namun expense ratio nya tinggi. Ibaratnya sudah jatuh, tertimpa tangga. Tanpa berlama lama, saya menyarankan 4 aturan sederhana bagi defensive investor dalam memilih saham:

1. Concentrated diversification, idealnya memegang antara 6-10 saham dengan alokasi minimum 5% dan maksimum 25% pada sebuah emiten tertentu.

2. Perusahaan harus blue chip, dimana bila kita menyebutkan namanya kepada orang awam, maka ornag tersebut mengenal perusahaannya. Bukan perusahaan siklikal.

3. Perusahaan rutin membagikan dividen, idealnya di kisaran 40-60%.

4. Investor harus membeli pada harga undervalue, atau maksimal harga wajar. Bila PER diatas 20, meski perusahaan sangat bagus, jangan beli.


Sebagai contoh, anda bisa saja menyusun portofolio anda sebagai berikut, dengan pertimbangan IHSG saat ini sudah naik cukup banyak dan berada di level 6000

-50% dana reksadana obligasi

-50% dibelikan saham: ASII, BBNI, BMRI, GGRM, PWON, TLKM, ULTJ


Luar biasanya, dengan komposisi tersebut, kita memiliki upside potential yang cukup tinggi (+12% setahun sangat realistis), namun downside kita terbatas sekali. Worst case scenario, dana kita yang awalnya 100 juta menjadi 80 juta, dimana meski kita akan panik, tapi kemungkinan besar kita akan bisa mengatur emosi kita dan tidak akan exit saat market crash. Sekian untuk artikel kali ini, semoga bermanfaat.


Salam cuan,

Filbert





Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023