Metode Valuasi Saham DCF Part 2: Terminal Value dan Harga Wajar

 Artikel berikut merupakan kelanjutan dari Metode Valuasi Saham DCF Part 1. Bisa dibilang, bagian terberat telah kita lalui dan tugas kita sekarang bisa dibilang relatif mudah. Tanpa berlama lama, perlu kita sadari keterbatasan kita dalam melakukan sebuah analisa. Semakin jauh kedepan kita memprediksi, tentu hal tersebut akan semakin sulit dan tingkat akurasi semakin berkurang. Oleh karena itu, metode DCF pada umumnya hanya meramalkan pertumbuhan perusahaan signifikan selama 10 tahun kedepan, setelahnya pertumbuhan hanya sekedar mengikuti inflasi. Hal inilah yang disebut dengan perpetual growth rate, dimana pada kasus kita, kita akan mengasumsikan pertumbuhan GGRM hanya sebatas 2% per tahun setelah tahun ke 10. Asumsi ini sangatlah penting karena sejarah membuktikan hampir tidak ada perusahaan yang bisa tumbuh signifikan dalam periode yang berkepanjangan.


Hal diatas tersebut, juga memunculkan istilah baru yang dikenal dengan terminal value, yaitu nilai dari suatu bisnis melampaui periode dimana kita dapat memprediksikan future cash flow. Terminal value dapat dihitung dengan rumus yang sangat sederhana. Pada kasus kita, FCF pada tahun ke 11 akan bernilai 13,4 T, dimana kita hanya tinggal membagi angka tersebut dengan (WACC-perpetual growth) sehingga didapati nilai terminal value sebesar 278.4 T.


Sekarang, kita hanya tinggal men present value kan semua angka yang telah kita hitung dan memasukannya pada tabel berikut. Pada akhirnya, kita akan mendapati total dari present value FCF dan terminal value sebesar 205,3T. Firm Value didapatkan dengan mengurangi angka di samping dengan total liabilities perusahaan, yakni sebesar 20,3T, sehingga didapatkan nilai 185T yang setara dengan 96.350 per lembar saham.

Apa yang bisa kita simpulkan? Pada bulan Maret 2021, harga saham GGRM berada pada kisaran 36.000-38.000 yang berarti MoS (Margin of Safety) untuk saat ini berada pada angka 60%. Bisa dibilang ini adalah suatu kesempatan untuk “Beli Mercy Harga Bajaj”. Namun, hal ini memunculkan pertanyaan baru, apa yang menyebabkan market menghargai GGRM sangatlah rendah padahal kinerja keuangan sangatlah baik. Bahkan, meski selama 10 tahun terakhir pemerintah terus menaikan cukai, namun perusahaan terus membukukan laba yang bertumbuh pesat.

Setelah melakukan beberapa research, penulis kebetulan sedang mempersiapkan untuk ujian CFA tahun depan dan menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut adalah ESG Investing (Environmental, Social, and Corporate Governance), dimana para Big Fund melakukan black list terhadap perusahaan yang tidak ramah lingkungan seperti rokok, minuman alkohol, dan pertambangan dari portfolio mereka. Itu juga sekaligus menjawab mengapa PTBA dengan profitability margin yang sangatlah menakjubkan, tidaklah dihargai semahal BBCA dari segi PBV.


Namun, justru penulis menganggap hal tersebut sebagai opportunity untuk beli dan hold jangka panjang. Toh perusahaan yang kita pegang manajemennya jelas dan rajin bagi dividen kok. Meski sulit, kita perlu mengingat kalau tugas kita sebagai long term investor adalah menganalisa laporan keuangan dan prospek perusahaan, membuat keputusan, dan bersabar. Selain itu, itulah sebabnya kita perlu melakukan diversifikasi terhadap beberapa sektor dalam mengelola portofolio kita. Selain meminimalisir risk, juga berguna untuk menghilangkan kebosanan dan membantu untuk sekali lagi menjadi manusia yang sabar dan rasional. Sekian untuk pelajaran hari ini, semoga bermanfaat.


Salam Cuan,

Filbert

 

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)