Empat Tren Harga Saham

Beberapa kesempatan yang lalu, penulis berkesempatan membaca buku berjudul "Multibagger" yang ditulis oleh Rivan Kurniawan. Buku tersebut bisa dibilang singkat, padat, jelas dan saya sangat merekomendasikan anda untuk membeli buku tersebut (bisa melalui Tokopedia). Beliau menceritakan tentang pengalaman multibaggernya pada saham Fast Grower (ULTJ, WSKT), cyclical (ANTM, MEDC, INDY), dan Turnaround (KBLI, MAIN). Buku tersebut memberikan insight mengenai framework seorang value investor, dimana yang kita incar bukanlah kenaikan 5-10% seperti pada aliran trading, namun adalah kenaikan ratusan persen multibagger dalam beberapa tahun. Selain itu, Pak Rivan juga membahas mengenai 4 skenario harga saham dimana saya merasa ilmu tersebut sangat bermanfaat bagi kita semua. Tanpa berlama lama, mari kita langsung menuju materi.


1. Harga saham naik karena rumor atau sentimen jangka pendek

Banyak investor yang memutuskan untuk membeli sebuah saham hanya karena harganya sedang naik, atau bahasa yang sering digunakan adalah "sahamnya lagi uptrend". Sayangnya banyak investor yang tidak meneliti lebih lanjut apakah harga sahamnya naik karena disebabkan kinerja fundamental yang meningkat/membaik, atau hanya karena sentimen jangka pendek saja. Saham saham yang harganya naik hanya karena sentimen jangka pendek namun tidak disertai kinerja fundamental, biasanya kenaikannya tidak bertahan lama. Bahkan investor yang membeli saham yang "sedang uptrend" ini di harga puncak malahan justru berpotensi mengalami kerugian jika harga sahamnya kemudian berherak turun karena pasar menyadari bahwa kenaikan harga saham tersebut tidak dibarengi dengan perbaikan/peningkatan kinerja fundamental. 

Sebagai contoh, pada tahun 2017 BUMI berhasil merestruktuisasi hutangnya dan harga sahamnya yang sebelumnya parkir di gocap, berhasil menembus 500 atau naik hingga 10x lipat dalam waktu beberapa bulan saja. Banyak investor yang kemudian berspekulasi bahwa BUMI mungkin saja kembali ke harga 8000 seperti di tahun 2008-2009 lalu. Namun begitu pasar menyadari bahwa restrukturisasi hutang tidak serta merta memuat kinerja fundamental BUMI menjadi baik dan harga saham BUMI kemudian harus kembali turun signifikan, dan ketika artikel ini ditulis harga sahamnya kembali ke 57/lembar. Oleh karenanya, anda perlu lebih berhati hati dalam membeli saham yang sedang uptrend hanya karena sentimen jangka pendek saja. (ARTO, BRIS, ANTM)


2. Harga saham naik karena fundamental membaik

Jika dalam poin sebelumnya harga saham naik namun karena sentimen jangka pendek saja, namun ada juga saham saham yang berada dalam trend bullish karena disertai kinerja yang juga membaik dibandingkan dengan sebelumnya, dimana kenaikan biasanya ini akan lebih sustain. Namun, anda perlu berhati hati dalam memeriksa laporan keuangan secara detail. Sering kali investor hanya menaruh perhatian pada laba bersih saja, tanpa memperhatikan dari mana laba bersihnya tersebut berasal. Jika laba bersih meningkat karena kinerja operasionalnya, maka it's a good sign, namun jika laba bersih meningkat bukan karena kinerja operasionalnya, maka bisa jadi anda menemukan value trap. Kemungkinan multibagger lebih besar bila kita berhasil menemukan sebuah perusahaan yang mulai menunjukan pertanda turnaround. Sebagai contoh, PGAS harga sahamnya sempat anjlok dari 6200 an ke 1400 an pada tahun 2015-2018 dikarenakan kinerjanya yang buruk. Namun memasuki tahun 2018 kinerja pegas mulai membaik seiring dengan PGAS berhasil mengakuisisi Pertagas, yang membuat PGAS mendominasi industri distribusi gas hingga 96% dan harga sahamnya tentu meningkat hingga 2600/lembar. Sayangnya karena kinerja perusahaan pada tahun 2019 keatas memburuk, harga sahamnya pun kembali turun hingga sekarang berada pada 1000/lembar. 


Multibagger by Rivan Kurniawan

3. Harga saham turun karena fundamental memburuk
Banyak saham yang harganya turun karena kinerja yang memburuk, entah karena laba bersih turun, arus kas yang negatif, dan sebagainya. Jika penurunan harga saham disertai penurunan kinerja fundamental, maka penurunan harga tidak dapat dikatakan sebagai kesempatan. Sebagai contoh, di tahun 2017-2018 AISA menjadi salah satu emiten yang paling banyak diperbincangkan pelaku pasar karena harga sahamnya turun dari 2200 an ke 500 an. Banyak investor kemudian berspekulasi untuk masuk ke saham ini dengan berharap bahwa harga sahamnya akan kembali ke 2200 an dan dia akan memperoleh keuntungan 4x lipat. Padahal di tahun tersebut, AISA banyak tersangkut kasus hukum seperti beras oplosan, hingga akhirnya AISA mengumumkan akan mendivestasi bisnis berasnya. Bisnis berasnya sendiri berkontribusi sekitar 60-70% dari omset AISA, yang artinya bila bisnisnya didivestasi maka AISA akan kehilangan omset sebesar itu. Di tahun yang sama, AISA mengumumkan tidak sanggup membayar beban bunga obligasi yang sudah jatuh tempo. Alih alih mendapatkan keuntungan 4x lipat, banyak investor yang justru harus menelan kerugian. Bahkan, harga saham AISA sempat disuspend selama 2 tahun pada harga 168, sebelum dapat ditransaksikan kembali pada akhir 2020 kemarin. 

4. Harga saham turun karena sentimen negatif jangka pendek
Sering kali banyak investor yang menghindari saham saham yang sedang dalam tren menurun, padahal tidak semua saham yang turun disertai dengan fundamental yang memburuk. Dalam banyak kasus, harga saham turun hanya karena sentimen nagatif. Padahal bisa saja sentimen negatif tersebut hanya bersifat jangka pendek atau bahkan sebenarnya tidak mempengaruhi fundamental perusahaan sama sekali. Atau dalam kasus lainnya, ada saham yang kinerja fundamentalnya terlihat memburuk dari hal hal yang bersifat non operasional seperti faktor selisih kurs. 

Sebagai contoh BBNI pada tahun 2015 sempat mengalami penurunan dari 7000 an ke 4000 an dalam waktu beberapa bulan. Penyebabnya adalah sentimen negatif pembatasan Net Interest Margin (NIM) perbankan. Waktu itu OJK meminta bank BUMN untuk menurunkan NIM perbankan menjadi sekitar 4%. Pasalnya, banyak bank BUMN yang NIM nya diatas 5% waktu itu. Meskipun kesannya pemerintah membatasi keuntungan bank, penurunan NIM tersebut belum tentu berdampak buruk bagi kinerja fundamental bank. Dalam hal ini, bank akan diberikan sejumlah insentif (seperti penurunan BI Rate), agar bank juga bisa ikut menurunkan suku bunga kredit dan penyaluran kredit akan jauh lebih menarik sehingga secara keseluruhan tidak akan mengganggu kinerja perbankan. Alhasil, ketika market mulai menyadarinya (kinerja BBNI dan sejumlah bank lainnya tetap mencatatkan peningkatan kinerja), harga sahamnya pun kembali naik hingga sempat mencapai 10.000/lembar pada tahun 2018. 

Dari empat kategori diatas bila ditanya mana saja yang perlu kita perhatikan, jawabannya adalah semuaya. Sebisa mungkin sebagai investor yang bijak, kita menghindari kategori pertama dan ketiga dan mencari opportunity kategori dua dan empat dalam berinvestasi. Sebagai contoh, saat ini MAIN sedang dihargai pasar pada harga 700 dikarenakan sentimen negatif yang terjadi akibat PPKM dan juga impor daging ayam dari Brazil. Namun, penulis sendiri merasa bila PPKM sudah tidak seketat saat ini, maka harga ayam akan kembali recover dan menguntungkan MAIN (meskipun bisnis utamanya adalah pakan ternak, namun harga ayam sangat berpengaruh pada penjualan pakan ternak tersebut). Selain itu, konsumsi per kapita daging ayam masyarakat Indonesia masih tergolong sangat rendah sehingga masih memiliki banyak room to grow sehingga penulis cukup optimistis bahwa harga MAIN akan evetually naik ke kisaran 1500 (kapannya tidak tahu, bisa saja di 2022/2023, bisa juga tidak). Mungkin sekian dulu untuk artikel hari ini, sehat selalu dan Tuhan memberkati.

Salam cuan,
Filbert




Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023