IHSG: Indeks Harga Saham Gorengan

Setelah 6 bulan terakhir penulis disibukan oleh kegiatan sehari hari, akhirnya saya bisa kembali menyempatkan waktu untuk menulis artikel kali ini. Saya ingin mengawali artikel ini dengan sedikit curhatan mengenai kondisi pasar modal kita beberapa bulan terakhir ini. Sebelumnya kondisi pasar pada Oktober 2020 hingga Januari 2021 bisa diibaratkan seperti mencuri permen dari anak kecil, dimana saham apapun yang kita beli, berfundamental baik maupun buruk pun, semua nya mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Namun, sejak Maret hingga bulan Juli keadaan menjadi berbalik dimana sekarang kita lah yang menjadi anak kecil dan harus mencuri permen dari orang dewasa. Semua saham big cap mengalami penurunan cukup signifikan, dimana saat ini UNVR berada di posisi 5000 an dan HMSP di posisi 1120 yang malah lebih rendah dibanding pada saat bottom crash kemarin. Banyak investor pemula yang akhirnya panik dan keluar dari pasar modal dan investor yang masih bertahan pun panik melihat portofolionya yang kebakaran. Anehnya, saat ini IHSG berada pada posisi 6072 dimana angka tersebut justru menandakan kenaikan 2% dibanding posisi diawal tahun, padahal saham big cap saat ini banyak yang dihargai seperti saat kondisi Oktober 2020 disaat IHSG masih di posisi 5000.


Sebelum kita membahas itu, mari kita pelajari lagi tentang IHSG itu sendiri dari awal. IHSG, sesuai namanya, adalah cerminan dari pergerakan semua saham yang terdaftar di BEI (ada 700 an), termasuk saham gocap dan saham suspen, dimana pergerakan dari tiap saham memberikan pengaruh terhadap IHSG berdasarkan bobot market cap nya. Hal tersebut berarti naik turunnya saham dengan market cap besar akan lebih memberikan pengaruh terhadap naik turunnya IHSG. Sebagai contoh, saham BBCA merupakan saham dengan market cap saat ini, yakni 739 triliun, yang merepresentasikan 10,5% dari market cap seluruh saham di BEI. Maka, jika suatu hari BBCA ini naik 10%, sedangkan saham lainnya tidak berubah, maka IHSG akan mengalami kenaikan 1,05%. Lebih lanjut lagi, emiten top ten market cap memegang kendali atas pergerakan 40-45% dari IHSG sehingga asalkan mayoritas dari 10 saham tersebut naik, tak peduli jika ratusan saham lainnya turun, maka IHSG akan tetap mengalami kenaikan. Disisi lain, saham bervaluasi kecil seperti INCI (market cap 140 miliar), bila mengalami kenaikan 10.000% pun, tidak akan memberikan dampak signifikan pada pergerakan IHSG. 


Top 10 Market Cap 1 Januari 2021 dan 1 Juli 2021

Dari sini, kita perlu telusuri lebih dalam mengenai daftar top ten market cap di BEI. Diawal tahun, bisa kita lihat bahwa semua saham top ten market cap (kecuali TPIA) merupakan saham big cap yang terkenal memiliki reputasi baik dan terkenal di kalangan masyarakat dari dulu. Sekarang, coba bandingkanlah dengan top ten market cap saat ini dimana UNVR dkk semuanya turun signifikan dibanding awal tahun. Tapi, kemudian munculah pemain baru yang tahun tahun sebelumnya tidak pernah terdengar seperti ARTO, EMTK, DCII yang bahkan berhasil menggeser keluar BBNI dan HMSP dari tabel tersebut. Kenaikan ARTO dkk yang sedemikian tingginya sejak awal tahun menyebabkan market cap nya menjadi sangat besar hingga tembus 100 triliun, dimana akhirnya mereka turut berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG itu sendiri. Dengan kata lain, jika bukan karena kenaikan luar biasa dari ARTO dkk, maka seharusnya IHSG saat ini berada pada posisi 5000 an seperti saat bulan Oktober kemarin. Masalahnya, kita semua tau kalau kenaikan ARTO dkk merupakan hasil gorengan dari bandar, dimana saat ini ARTO memiliki valuasi 2,5 kali dari BBNI meskipun beberapa tahun terakhir ARTO konsisten membukukan kerugian dan belum pernah untung, sangat tidak masuk akal. 


Pada akhirnya, investor yang rasional akan tetap menginvestasikan uangnya di saham saham tradisional, meski hasilnya kita jadi kesulitan untuk mengalahkan IHSG. Meski dimikian, bila kita melihat kinerja indeks penting diluar IHSG itu sendiri, maka terhitung dari awal tahun semuanya mengalami penurunan serupa dengan portofolio kita, yakni IDX 30 (-12,20%) dan LQ 45 (-11,63%). Saya sendiri merasa indeks tersebut merupakan pembanding yang lebih tepat dibanding IHSG untuk saat ini, karena tidak sembarang saham bisa lolos filter untuk bisa masuk menjadi anggota indeks tersebut. Maka, jika porto kita sejak awal tahun mengalami penurunan dibawah 10%, bisa dibilang kita sudah beat the market. 


Lantas, apa yang harus lakukan untuk beberapa saat kedepan? Moment seperti sekarang merupakan kesempatan emas untuk mengakumulasi saham berfundamental baik diharga murah dimana eventually harga saham BBNI dkk akan naik juga ketika market mulai menyadari seberapa irasional kondisi pasar saat ini. Bila anda ingin aman, bapak/ibu dapat menunggu perusahaan merilis laporan keuangan kuartal 2 dan perusahaan terbukti mampu membukukan kinerja diatas ekspektasi, meskipun akibat pandemi OJK memberikan keringanan perusahaan untuk merilis LK nya lebih mundur. Namun, tentu risikonya adalah harga sahamnya sudah gerak duluan dan kita bisa ketinggalan kereta. Sekian untuk hari ini, stay strong and always be rational.

 

Salam Cuan,

Filbert

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023