Prospek Saham PT Panca Mitra Multiperdana (PMMP)

Note: Artikel ini merupakan part 1 yang menjabarkan bisnis PMMP. Sudah ada artikel kedua yang dapat anda lihat pada Inventory Busuk!!! Case Study PMMP dan ARNA. Disarankan untuk membaca keduanya.


Sama seperti artikel sebelumnya yang membahas company small cap wonderful yaitu PBID, pada kesempatan kali ini penulis akan membahas perusahaan small cap yang tidak kalah menarik. Penulis sendiri sudah masuk ke PMMP dari Mei 2021 dan harga sahamnya sempat naik ke 600-an. Namun pada saat itu penulis memutuskan untuk hold karena menilai nilai intrinsik perusahaan lebih tinggi dari itu. Sayangnya harga sahamnya malah turun dan sekarang diperdagangkan di harga 440/ lembar. Dengan valuasi yang menarik yaitu PER 6,4x dan PBV 1x, tentu PMMP layak untuk ditinjau lebih dalam. Berikut ulasannya. 

Prospect

PT. Panca Mitra Multiperdana didirikan pada tahun 2004 dan bergerak di bidang ekspor udang. Mayoritas pendapatan perusahaan berasal dari Amerika Serikat (75%) dan Jepang (20%). Secara business model, PMMP membeli udang dari petambak, mengolah menjadi barang jadi, dan mengekspor produk ke retailer diluar negeri. Perusahaan memiliki 26 cold storages dengan kapasitas 46,000 ton yang memungkinkan perusahaan untuk memborong bahan baku ketika harganya turun (disaat pandemi harga udang turun sekitar 20%). Sebagai gambaran, 76% dari COGS perusahaan terdiri dari bahan baku.

Saat ini PMMP memiliki 8 pabrik dengan kapasitas produksi 27,000 ton dan berencana membangun pabrik ke 9 di tahun 2022. Perusahaan bertumbuh pesat dimana total export sales meningkat dari 8,000 ton (2015) menjadi 18,000 ton (2020), yang menempatkan PMMP sebagai eksportir udang ke 2 terbesar di Indonesia. Produk perusahaan memiliki berbagai sertifikasisi sehingga akan mempermudah rencana ekspansi ke EU market.

Pada 1H 2021, penjualan PMMP terdiri dari raw (22%), cooked (57%), dan value added (21%). Secara profitability, perusahaan memiliki GPM 21,6% dan berencana untuk meningkatkan margin dengan product mix shifting menuju value added products. Keputusan tersebut juga didasari kompetisi yang sengit pada market raw shrimps, dimana PMMP harus bersaing dengan India dan Ekuador. Namun untuk produk cooked dan value added, yang demandnya tidak kalah banyak, masih belum banyak perusahaan yang dapat menprovide produk berkualitas. Secara laba bersih, perusahaan optimis akan mencatatkan kenaikan laba dari $10,2 juta menjadi $11 juta.


Balance Sheet Quality

PMMP memiliki current ratio 123% dan gearing ratio 223%. Perusahaan umumnya menggunakan utang berbunga untuk membeli bahan baku yang menyebabkan pembengkakan pada akun inventory. Dari segi aset, 66% dari aset perusahaan merupakan persediaan, dengan days of inventory 370 hari. Manajemen sendiri mengungkapkan alasan dari tingginya persediaan. Yang pertama untuk memitigasi risiko fluktuasi harga dan ketersediaan bahan baku (risiko virus). Yang kedua mengingat durasi kontrak yang berjangka 6-12 bulan, PMMP memiliki tuntutan dari client untuk memaintain bahan baku guna memastikan keberlangsungan kontrak. Terakhir, persediaan besar memudahkan proses ekspansi perusahaan dimana pabrik baru dapat langsung beroperasi.

Dari segi liabilitas, 83% dari liabilitas perusahaan terdiri dari pinjaman bank jangka pendek berupa revolving loan. Revolving loan tersebut berbentuk USD dengan bunga tidak lebih dari 5,5% per tahun. Suku bunga tersebut tidak berbeda jauh dibanging Unilever (suku bunga USD 4%) yang notabene merupakan salah satu perusahaan terbaik di Indonesia. Kreditur menilai bisnis PMMP low risk dengan pertimbangan order book yang stabil dan meningkat. Terakhir, EBIT/ Interest berada pada 2,51x yang masih aman.

 

Valuation

Dengan mempertimbangkan annualized ROE perusahaan yang berada pada 17.34% dan diperkirakan akan stabil diatas 15%, saat ini PMMP tergolong undervalue dengan PER 5.83x dan PBV 1x. Beberapa investor menghindari PMMP dikarenakan faktor balance sheetnya yang sekilas terlihat kurang menarik. Namun, seperti yang telah diuraikan diatas, hal tersebut tidaklah concerning. Berdasarkan pencaharian, baru sedikit analyst yang mengikuti PMMP. Secara relative valuation, kita dapat mengambil data Equity Research Trimegah Sekuritas yang membandingkan PMMP dengan perusahaan yang bergerak dibidang serupa.

Company

Market Cap (USD Mn)

Forward

Net Debt/ Equity (%)

Net Margin (%)

PE

PBV

ROE (%)

Avanti Feeds

1053.6

19.1

4.7

25.3

(59.0)

7.0

Apex Food

118.8

11.1

1.7

16.2

35.9

5.9

Waterbase

65.6

24.6

2.5

10.4

(6.0)

2.8

Average

412.7

18.2

3.0

17.3

(6.7)

5.2

PMMP

85.7

5.4

0.9

15.8

219.0

6.9


Dengan asumsi EPS 2021 sebesar 70, saya rasa valuasi diharga 800 yang melambangkan PER 11,4x sangatlah wajar mengingat perusahaan masih growing. Sebagai informasi tambahan, perusahaan menargetkan laba $14 juta yang setara dengan EPS 86 untuk tahun 2022. 

 

Corporate Governance

Shareholders composition PMMP terdiri dari PT. Tiga Makin Jaya dengan 43%, Soesilo Soebardjo (komisaris utama) sebesar 24.65%, Martinus Soesilo (direktur utama) sebesar 8.50%, Hirawan Tedjokoesomo (wakil direktur utama) sebesar 0.85%, PT. Harapan Bangsa Kita (Kaesang) sebesar 8% dan masyarakat sebesar 15%. Sebagai informasi tambahan, PT. Tiga Makin Jaya sendiri dimiliki oleh Soesilo Soebardjo (79%), Martinus Soesilo (20%), dan Hirawan Tedjokoesoemo (1%). Berdasarkan pencarian, hingga saat ini belum ada kasus hukum terkait PMMP, PT. Tiga Makin Jaya, maupun komisaris dan direksi PMMP. Berdasarkan catatan kaki, perusahaan tidak memiliki penjualan dengan pihak terafiliasi.

Manajemen merupakan tipe pekerja keras dimana sejak 2015, PMMP membangun pabrik baru hampir setiap tahun. Secara transparansi, corporate secretary PMMP aktif di forum stockbit dan rutin membagikan company update setiap bulannya. PT. Harapan Bangsa Kita sendiri masuk ke PMMP pada akhir 2021 dengan mengakuisisi 8% kepemilikan Pt. Tiga Makin Jaya dengan harga 490/ lembar. Hal tersebut bertujuan untuk investasi sekaligus kerja sama strategis untuk mengembangkan PMMP di dalam negeri dengan brand Ebinoya.  Perusahaan membagikan dividen Rp 3/ lembar untuk tahun 2021. Dividen yang kecil merupakan keputusan yang bijak mengingat perusahaan masih dalam growth phase.

 

Risk

Risiko pertama adalah terjadinya virus seperti di tahun 2013 dan 2014, yang dapat mempersulit perusahaan untuk mendapatkan bahan baku selama kurang lebih 6 bulan. Selanjutnya adalah fluktuasi dari harga bahan baku yang termasuk komoditas. Namun, perusahaan telah memitigasi risiko dengan menyetok persediaan dalam kuantitas besar. Risiko besar dapat terjadi bila pemerintah melarang ekspor udang, misalnya dikarenakan konflik politik antara Indonesia dan Amerika Serikat (unlikely to happen).

Bisnis model perusahaan sendiri tergolong low risk dan ekspansi yang dilakukan selalu didasari ditandatanganinya kontrak penjualan baru yang bernilai signifikan (kenaikan demand). Dari sisi currency risk, perusahaan membeli bahan baku dan membayar gaji karyawan dalam rupiah, menerima pembayaran, membayar bunga, dan menyajikan LK dalam USD. Pelemahan rupiah justru akan berdampak positif bagi perusahaan.

Dari segi likuiditas meski saham PMMP tergolong likuid, big fund kemungkinan belum tertarik untuk berinvestasi di PMMP dikarenakan market cap dan free float sharenya yang kecil. 


Summary

Alasan diataslah yang membuat penulis yakin untuk setia hold PMMP. Perusahaan yang rajin berekspansi dikarenakan orderan yang menumpuk tentu merupakan kabar yang sangat baik. Idealnya kita berinvesasi di perusahaan yang kesulitan memenuhi pesanan, bukan perusahaan yang kesulitan mencari pelanggan. Terkait penurunan beberapa bulan terakhir ini malah menawarkan kesempatan untuk mengakumulasi dimana valuasi sekarang sangat menarik. Namun kembali selera setiap orang dalam berinvestasi berbeda beda dan semua kembali pada preferensi anda. Sekian untuk artikel kali ini dan salam sejahtera.


Salam Cuan,

Filbert


Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023