Prospek Saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia (ISSP)

Kalau selama ini penulis selalu menghindari sektor baja dikarenakan kinerjanya yang buruk (lihat saja kinerja KRAS 10 tahun terakhir), sejak Q420 sektor ini mulai menarik perhatian dikarenakan adanya perbaikan kinerja. Sebut saja KRAS yang konsisten membukukan rugi besar, namun sekarang sudah mulai membukukan laba bersih. Sayangnya hutang KRAS sangatlah tinggi (DER 555%) sehingga membuat perusahaan tidak layak invest. Lantas adakah perusahaan di sektor baja yang hutangnya rendah dan berhasil turnaround dengan membukukan laba banyak? Jawabannya ada yaitu ISSP.

PT. Steel Pipe Industry of Indonesia, atau yang biasa disebut Spindo, merupakan produsen pipa baja terbesar di Indonesia. Dalam 1 tahun terakhir harga saham ISSP sudah naik lebih dari 100% dan saat ini diperdagangkan diharga 412/ lembar. Kenaikan tersebut terjadi seiring dengan perbaikan kinerjanya yang mulai turnaround sejak Q420. Sebut saja ROE nya yang berada dikisaran 2-6% pada tahun 2016-2020, melonjak menjadi 16% di tahun 2021. Meski begitu valuasinya saat ini masih tergolong murah dengan PER 4,98x dan PBV 0,78x. Ditambah DER perusahaan sekarang berada di angka 80% tentu membuat ISSP menarik untuk ditinjau. Lantas mari kita pelajari lebih lanjut.


Business model perusahaan cukup menarik. Pertama perusahaan membeli baja karbon dan gulungan dari Krakatau Steel dkk, dengan komposisi pembelian impor dan lokal 50/50. Setelahnya ISSP memotong gulungan baja menjadi lebar, dilekungkan, dan dilanjutkan dengan mengelas ujung sambungan sehingga menjadi produk pipa baja. Pipa baja tersebut kemudian akan dijual ke customer yang terdiri dari sektor konstruksi (60%), otomotif (20%), dan properti (20%). Saat ini harga baja sendiri sudah naik banyak (anda bisa google steel price trading economics) yang berarti biaya bahan baku ISSP juga ikut naik. Namun hal tersebut malah merupakan good news karena ISSP bisa pass on kenaikan tersebut ke konsumen dengan menaikan harga jualnya lebih dari kenaikan bahan baku yang terjadi. Sebagai gambaran, anda bisa melihat gambar dibawah dengan black pipe adalah produk ISSP, HRC adalah bahan baku, dan spread adalah selisih antara kedua angka tersebut. 


Posisi perusahaan sebagai market leader pipa baja juga memberikan keunggulan yang signifikan. Hal tersebut berarti perusahaan memiliki lebih banyak option terkait pembelian bahan baku. Selain itu ISSP rutin mengedukasi konsumen terkait pentingnya pipa baja yang berkualitas dimana hal tersebut akan meningkatkan loyalitas customer. Di tahun 2021, ekspor menyumbang kontribusi 8% terhadap penjualan perusahaan. Angka ini diharapkan naik menjadi 10-15% di tahun 2022 seiring dengan usaha perusahaan memperluas penjualan di AS dan Canada. Bila anda ingat, Joe Biden telah menandatangani Infrastructure Bill senilai $500 juta dan bila ISSP bisa kecipratan remah-remahnya saja, akan sangat mendukung kinerja perusahaan. 


Di tahun 2022, perusahaan menargetkan perumbuhan penjualan 30% seiring dengan ekspansi perusahaan di Sulawesi yang berarti EPS dapat menjadi 100. Dimasa depan bila nanti BUMN Karya banyak mendapatkan proyek terkait pembangunan IKN dan SWF, maka ISSP juga akan kecipratan mengingat sektor konstruksi menyumbang 60% terhadap penjualan perusahaan. Ditambah lagi pak Jokowi peduli dengan industri baja dengen menekankan pentingnya penggunaan komponen dalam negeri (TKDN) dalam proyek infrastruktur dan migas. 


Sebagai kesimpulan bisa dibilang kinerja ISSP yang cemerlang di tahun 2021, diharapkan dapat terus berlanjut di tahun ini. Ditambah harga sahamnya yang memiliki valuasi sangat menarik. Saya sendiri ada masuk di harga 306 di bulan Agustus setelah kinerja perusahaan confirm bagus selama 3 kuartal berturut-turut dan berencana untuk hold selama sentimen dan kinerja perusahaan masih positif. Bagaimana dengan anda? Apakah anda tertarik dengan ISSP? 


Salam Cuan,

Filbert


Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023