Prospek Saham PT Indorama Synthetics (INDR)

Saya jujur kurang suka dengan saham yang kurang liquid dikarenakan sulit untuk keluar masuk. Sebagai contoh minggu lalu ketika saya take profit PSSI maka harga sahamnya langsung turun dari 494 ke 482. Dana tersebut kemudian saya gunakan untuk tambah porsi SMDR di 1700 (yang sudah bagger), setelah saya mengupdate target baru SMDR yaitu 3000 sehingga menawarkan potensi upside yang menarik. Saat ini porto saya sendiri terdiri dari:

*40% batubara (BSSR, ABMM, MBAP)

*25% shipping (SMDR)

*35% sisanya (MARK, PMMP, ISSP, PBID, INKP)

Lantas mengapa saya melirik INDR? Industrinya yang cenderung dihindari (tekstil) dan volume transaksinya yang tipis membuat penulis selama ini tidak melirik INDR. Namun ada batas dimana suatu ketika kita tidak bisa mengabaikannya lagi. Kinerjanya yang luar biasa di tahun 2021 (ROE 18.4%), dan valuasinya saat ini di 5275/ lembar (PER 2.86x dan PBV 0.53x) menjadikan INDR kelewat murah. Bahkan bila sahamnya pada akhir tahun nanti naik 50% ke 8000, harganya pada saat itupun masih tergolong murah. Target optimistisnya bahkan 10.000. Asalkan anda bisa sabar dan menghiraukan pergerakan saham maka saham ini bisa dipertimbangkan (meski idealnya hanya 5% porto mengingat saham ini kurang likuid). Mari kita bahas.


PT Indorama Synthetics merupakan anak usaha Indorama Corporation milik Sri Prakash Lohia (top 10 orang terkaya di Indonesia). Selama ini kinerja perusahaan sulit diprediksi dan seringkali jelek yang mengakibatkan sahamnya disitu situ saja. Sebut saja laba nya yang mendekati 0 dari tahun 2013-2017. Namun pada tahun 2018 dan 2019, perusahaan berhasil membukukan pembaikan kinerja dengan ROE 18% dan 10% yang mengakibatkan sahamnya sempat menyentuh 9600, sebelum turun lagi dikarenakan kinerjanya yang mengecewakan di tahun 2020. Alhasil investor pemula maupun senior pun males untuk berspekulasi akan kinerja INDR. Saham ini bisa dibilang seperti INKP pada jaman dulu dimana kinerjanya yang jelek membuat sahamnya dijauhi, sebelum sahamnya mulai ramai setelah perusahaan berhasil turnaround dan konsisten membukukan kinerja baik.


Produk dari Indorama Synthethics terbagi menjadi benang pintal, polyester, dan kain. 60% pendapatan perusahaan berasal dari ekspor dan sisanya dari lokal. Perusahaan bisa dikategorikan sebagai cyclical karena produk yang dijual merupakan komoditas, dimana pendapatan dan laba perusahaan sangat berkorelasi dengan harga cotton itu sendiri. Meskipun INDR ini jualannya polyester namun perlu diingat kalau polyester merupakan bahan substitusi dari cotton itu sendiri (anda bisa cek tulisan bahan pada baju anda), dimana bila satu naik maka yang satu lagi juga akan ikutan naik. Dan seperti yang kita lihat pada Cotton Price - Trading Economics, harga kapas saat ini sedang berada di level yang sangat tinggi, dan significantly higher dibanding 2021. Kalau tadi dari sisi price, bagaimana dari sisi volume? Apakah perusahaan menunjukan pertumbuhan volume yang akan mengakibatkan positive effectnya double? Sayangnya INDR ini bisa dikatakan growthnya 0, dimana pendapatan perusahaan 10 tahun terakhir ya gitu gitu saja (tidak seperti PTBA yang meski sama sama jualan komoditas, namun volumenya naik 2x lipat dalam 10 tahun). 


Namun dikarenakan saat ini harga cotton lagi tinggi tingginya, maka kinerja INDR untuk tahun 2022 diprediksi akan lebih baik lagi dibanding tahun 2021. ROE 25% tentu bukanlah sesuatu yang mustahil, dimana bila hal itu terjadi maka sahamnya akan jalan dan menarik perhatian banyak orang. Diharapkan pada saat itu sahamnya akan menjadi lebih liquid. Selain itu Polyester ini industrinya tidak bisa dibilang sunset, karena perusahaan sendiri menilai demand polyester global akan meningkat secara stabil 3% per tahun. 


Terakhir, dari sisi neraca perusahaan memiliki hutang berbunga $140 juta pada tahun 2021, turun dari $181 juta di tahun sebelumnya. Angka ini pun tergolong kecil karena melambangkan modified DER 30% yang berarti perusahaan sehat secara keuangan. Lantas apa kesimpulannya untuk INDR? Apakah menarik di harga 5300? Jawabannya adalah yes, meski alokasi dananya pun tidak bisa sebesar bila kita berinvestasi di saham liquid seperti INKP. Sekian untuk kali ini dan semoga bermanfaat.


Salam Cuan,

Filbert

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)