Harga Wajar Emiten Coal

Menyambung tulisan saya yang sebelumnya, kali ini saya akan sharing teknik sederhana untuk menghitung harga wajar emiten coal. Namun saya tidak akan melakukan untuk semua emiten, melainkan hanya pada yang saya peduli saja. Di tahap awal saya melakukan screening excel dan disusutkan menjadi kandidat yang menarik. Kriteria saya simple, PER <7x dan anda akan dapat attention saya. Diluar itu I don't care, karena simply tidak wise membeli emiten overvalue. 


Mengapa tidak pakai PBV pak? PBV dimata saya itu indikator yang useless, bila anda sedang berbicara terkait saham siklikal. Apa sih rumusnya? Market Cap dibagi Total Ekuitas. Loh jadi anda beli siklikal itu karena aset yang dimiliki atau karena earnings powernya? Kalau saya sih tidak tertarik dengan yang namanya cadangan batubara, traktor ini itulah. Kalau harga komoditas nya sudah turun, anda masih suka dengan aset aset seperti itu?  Yang saya tertarik itu kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan memaksimalkan momentum. Ibaratnya riding the waves la. Terkait aset saya jujur hanya lirik cash nya saja. Simple kan?


Bagaimana dengan ITMG, BSSR, MBAP yang cadangannya sisa dikit? Apa lebih baik kita beli PTBA dan BUMI yang cadangannya sebejibun? Kembali lagi saya tanya, emang anda mau hold siklikal berapa lama? 6 bulan lagi masih hold aja belum tentu, mikirin 10 tahun kemudian. Lucu bukan? And manajemen juga lebih pinter dari kita, mereka kalau mau bisa beli tambang baru ketika reserves sisa dikit, lalu bangun infrastruktur dkk nya, makan waktu 2 tahun an. 


Oke sekarang saya tunjukin hasil screeningnya langsung aja ya. Biar sama sama enak, baru kita itung bareng bareng abis itu. Anda bisa lihat pada gambar dibawah. 


Prinsip saya simple. Valuasi wajar emiten coal menggunakan forward PER 4x. Mengapa 4? Karena itu sweet spot dimata saya. Sebagai gambaran di peak commo sebelumnya PER emiten coal pada menyentuh 8x. Loh kok bapak cuma pakai PER 4? Ya kita konservatif sedikit tidak ada salahnya bukan? Dalam valuasi, mustahil untuk bisa akurat 100%, mau pake metode apa pun itu (malah makin ribet metodenya, biasa makin kacau hasilnya). Makanya kita coba yang simple, namun bisa memberikan big picturenya. 


1. ITMG= Saya cinta emiten ini, kemarin saya lepas BSSR di 4650 untuk masik ITMG di 29600 setelah perusahaan rilis Q1 yg ciamik. Estimasi saya terkait laba 2022 adalah 14,5T. Nyatanya? Saya salah. Harus direvisi naik bapak ibu. Loh gimana dong? Revisinya adalah laba 16T, yang berarti harga wajar 4*16T= 64T, alias 56 ribu per lembar. 


2. BSSR= Q1 jelek, ya iyalah jalan diblokir haha. Anda bisa baca di postingan saya sebelumnya untuk tau lebih dalam terkait BSSR. Lantas Q2,3,4 gimana? Ya masalah sudah selesai, senyum lebar juga. Namun ASP dia gagitu naik setajem ITMG yang coal nya premium (high calorie). Oke estimasi laba berapa? 4,5T. Artinya harga wajar 4*4,5T= 18T, alias 6880 per lembar. 


3. MBAP= Selingkuhan saya ini. Saya sempat masuk ICBP di 7300 karena ya memang bagus perusahaannya. 1 minggu kemudian saya sell semua di 7600 an, dan timbuk dananya di MBAP. Why? Waktu itu perusahaan rilis 21Q4 dan semua orang kaget. Dari 21Q1,2,3 labanya ya naiknya smooth dan tiba tiba loncat di Q4. NPM Q4 bahkan mencapai 50%, sadis. Saya memutuskan masuk di 4400 dan turns out itu hal yang benar. Q1 nya rilis dan ternyata sangat bagus juga, padahal ini company di 2021 penjualan domestiknya dibawah 10% lo, wajarnya Q1 kena impact larangan ekspor kan? Surprise surprise, LK nya bagus dan sahamnya terbang. Estimasi laba tahun ini di 3,25T yang artinya harga wajarnya 4*3,25T= 13T, alias 10.600 per lembar.


4. ABMM. Wah jujur saya awalnya mau no comment aja sih. Rumor beredar Q1 ABMM bagus sekali, aslinya sangat mengecewakan. Perusahaan jual mutiara di harga bajaj and it comes to bite them hard. Harga wajarnya gimana pak? Saya no comment. Tanya holder kerasnya saja ya. Fun fact bagi yg belum tahu, ada pak LKH di dalamnya. 


5. ADRO. Emiten ini larinya kencang sekali dari awal tahun. Apalagi anaknya (ADMR). Tapi memang kalau ditanya siapa yang paling kecipratan momentum coal ini, jawabannya adalah ADRO dan ITMG. Laba tahun ini diestimasi 30T, yes setara BBCA, gila kan? Maka harga wajarnya 4*30T= 120T, alias 3750 per lembar. 


6. GEMS. Saya no comment karena belum pernah ngulik emiten ini sebelumnya.


7. PTBA. Mantan yang dikorbankan untuk membeli BSSR waktu itu, dan keputusan tersebut benar. PTBA ini wonderful lo, company siklikal tapi bisa grow 20% tahun ini, cari dimana lagi? (uhuk uhuk KKGI). Tahun ini targetnya 37 juta ton. 4 tahun lagi targetnya 60 juta ton, bayangkan saja. Manajemen bagus dan kerjanya becus. Ada kerjasama dengan KAI terkait distribusi coal. Lagi kembangin DME, ada PLTS juga (buat hiasan aja sih). Trus kelemahannya apa? Ya PTBA ini karena BUMN, mau gamau jadi saham patriot (berkorban untuk negara). Pas ada berita diawal tahun soal kerjasama dengan PLN, dimata saya itu bad news. Loh mending jual ke China dibayar double (or even more). Oke despite all that, laba PTBA ini sngat besar lo. Diprediksi tahun ini  bisa 11,5T. Maka harga wajarnya adalah 4*11,5T= 46T, alias 4000/ lembar. Artinya sekarang overvalue dong? Kalau mau positive thinking, PTBA ini paling defensive diantara smua coal, so wajarlah dapat valuasi premium.


Oiya pada perhitungan saya diatas, saya sengaja exclude cash per share lo. Padahal yang benar kan harusnya diikut sertakan dal perhitungan. Why? Ya sama kaya tadi, biar lebih konservatif. Kalau udah konservatif aja masih senyum lebar, tau kan artinya apa? Kalau anda tanya INDY, BUMI mana? Reply saya adalah anda hitung sendiri rasio hutang berbunganya dulu ya. Saya juga berencana next mau tulis artikel khusus ITMG, so stay tuned ya. Semoga bermanfaat dan selamat malam.


Salam Cuan,

Filbert



Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023