Prospek Saham PT Mulia Boga Raya (KEJU)

Zero to One

Bila anda mendengar kata keju, apa yang pertama terlintas di pikiran anda? Mozarella? Itu jenisnya haha. Nah kalau ngomongin brand, pasti yang terlintas adalah Kraft. Memang brand tersebut sangat strong dan sudah lama mendominasi pasar Indonesia. But what if saya katakan skrg dia sudah jadi No 2? Well, as of today market leader keju bukanlah Kraft lagi, namun Prochiz (under KEJU).

Secara volume, penjualan Prochiz melebihi Kraft. Namun secara nominal Kraft masih di No 1. Namun gap tersebut sangatlah kecil dan diperkirakan segera akan tersusul oleh Prochiz. Loh kok volumenya lebih gede tapi nominalnya lebih kecil? Jawabannya adalah perbedaan harga jual. Anda bisa gunakan teknik Tokopedia yang simple namun efektif untuk scuttlebutt. Ketiklah keju prochiz di Tokped, lalu ketik juga keju Kraft, akan muncul seperti berikut.


*Prochiz Cheddar 9.970 (160 gram), setara 5.870/ 100 gram

*Kraft Cheddar 15.345 (165 gram), setara 9.300/ 100 gram


Dari angka diatas, 2 hal langsung melintasi pikiran saya. Yang pertama adalah hebat banget KEJU bisa jual produknya semurah ini dan masih profit gede pula. Artinya efisiensi perusahaan very good. Yang kedua adalah apa jangan jangan selisih harga ini melambangkan brand yang inferior sehingga tidak memiliki pricing power?


Source of Growth

Nyambung dari pemikiran diatas, kita akan coba menggali lebih dalam bagaimana perusahaan bisa bertumbuh sangat cepat. Bahkan growthnya dalam 5 tahun terakhir sangat fantastis, dari 16% diawal 2019 menjadi 32% saat ini. On the other hand, market share Kraft turun dari 48% diawal 2019 menjadi 34% saat ini (based on nominal). Ternyata perusahaan memang sengaja maintain harga rendah, dengan harapan semakin banyak customer switching dari brand lain ke Prochiz ini. Adapun rencana perusahaan sebagai berikut:


1. Strengthen Core Products and Processes= KEJU ingin memperlebar sayapnya (menjangkau sebanyak mungkin masyarakat), sembari membangun brand equity (salah satunya dengan launching produk premium). Dalam hal ini produk utama perusahaan adalah Gold Cheddar.

2. Deepen Distribution & New Channels= Produk perusahaan banyak available di lapak online. Selain itu perusahaan juga bekerja sama dengan Yummy Kitchen (cloud kitchen) untuk membuat K-Ju by Prochiz (makanan siap saji).

3. Expand to High Growth Segments= Dalam hal ini keju quick melt dan spread (olesan) yang memiliki pertumbuhan diatas rata rata industri.

4. New Product Pillar= Meluncurkan produk baru di tahun 2021 dan 2022 seperti Prochiz Gold 60 gram, Prochiz Gold slices isi 2, Cheddar Royale (premium), dan Prochiz Quick Melt Slice (untuk burger). 

5. New Dairy= Perusahaan berencana untuk ekspansi ke business butter. Why not susu or yogurt? Perusahan menili ekspansi yang paling feasible dan memiliki rate of success paling besar adalah butter. Selain itu akan ada sinergy yang terbentuk dari ekspansi tersebut. Hal ini masih rencana dan kemungkinan dilaksanalan pada tahun 2024. 


Red Flag? 

Pada Oktober 2020, Garuda Food mengakuisisi 55% ownership KEJU di harga 1.156/ lembar. As of today, kepemilikan tersebut telah naik menjadi 66%. Namun ada 1 hal yang mengganjal. Jadi ceritanya KEJU memang cash rich company, yang juga capital efficient. Pada LK 22Q1 catatan kaki 22, terlihat kalau KEJU meminjamkan 100M ke Garuda Food. Pinjaman tersebut bunganya diatas deposito (anggap saja 4,8%), namun tergolong sangat rendah, dan berencana dilunasi antara akhir 2022 atau awal 2023. Pinjaman ini ditujukan untuk membantu sementara Garuda Food, mengingat Garuda Food mengakuisisi KEJU dengan hutang (ya meringankan beban bapak lah). Lucunya KEJU sendiri berencana meminjam 200M ke bank Danamon, meski saat ini masih sebatas fasilitas kredit yang belum ditarik sepeserpun, sehingga tidak tercermin di LK. Lucu kan? Seharusnya perusahaan tidak perlu berhutang ke bank (bunga probably 8%), loh itu dia ada kas 100M yang dipinjamkan ke bapaknya kok (cuma terima 4,8%). Nah harapannya apa? Semoga perkataan manajemen terkait kapan pinjaman dilunasi, benar dilaksanakan, baru setelahnya kalau misal kas KEJU masih kurang untuk ekspansi, bolelah cairkan fasilitas kreditnya. Apakah ini big deal? Bagi some people yes, bagi some people no. Kembali ke opini anda masing masing. 


Profitabilitas (Block vs Slice)

Nah dari LK 22Q1, kita bisa melihat kalau penjualan perusahaan disumbangkan oleh 3 segmen yaitu Block Cheese, Sliced Cheese, and others. Lucunya Block Cheese memiliki GPM 36,6%, jauh diatas Sliced Cheese dengan GPM 16,8%. Manajemen sendiri mengatakan hal tersebut disengaja dengan harapan customer yang awalnya iseng membeli sliced cheese isi 2 (harganya 2.000), akan merasa cocok dengan rasa produk, dan suatu saat turut membeli block cheese juga. Dimata saya ini termasuk good plan.


Other Info

*Perusahaan memperoleh bahan bakunya dari 5 perusahaan yang berasal dari US, Australia, dan New Zealend. Nah keju ini ada benchmarknya juga lo, anda bisa coba buka link ini https://tradingeconomics.com/commodity/cheese. Bisa dilihat harga keju sudah naik banyak sejak awal tahun, namun uniknya KEJU belum menaikan harga jual (sedangkan Kraft sudah). Manajemen mengklaim mereka menyetok bahan baku 6 months in advance, sehingga bisa menahan untuk menaikam harga terlebih dahulu. Meski ya tidak bisa dipungkiri, dalam beberapa bulan kedepan perusahaan harus menaikan harga jual. Toh bahan bakunya naik banyak kok. Cuma saya rasa, mau harga jualnya naik juga pun, tetap harganya sangat murah dibandingkan kompetitor. So, seharusnya tidak akan jadi masalah.


Valuation

Dalam 6 tahun ke depan perusahaan menargetkan pertumbuhan revenue 10%/ year, disertai dengan pertumbuhan NPM 1%/ year. Bila hal tersebut tercapai, maka revenue perusahaan di tahun 2028 akan menjadi 2,1T dengan NPM 20%, yang melambangkan laba 420M, setara dengan EPS 280. Berapa harga wajar emiten consumer goods? Ya anggap saja PER wajar 15x, maka perusahaan akan divaluasi di 4.200/ share, 6 tahun kemudian. Yang berarti yang anda saat ini akan berkembang 250% (setara CAGR 22%/ year). Menurut saya ini lumayan menarik, untuk ukuran perusahaan consumer goods yang bisnisnya bisa dibilang defensive. Dividen bagaimana? Jangan harap karena perusahaan berencana untuk reinvest semua profit yang dihasilkan untuk ekspansi perusahaan (mesin baru, brand building, launching produk baru).


Sekian untuk artikel kali ini, akhirnya saya bisa lega haha. Happy Sunday and Tuhan memberkati.


Salam Cuan,

Filbert

Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023