My Biggest Mistake

Perlu diakui tahun 2022 merupakan anomali (in a good way), dimana di first half saham energi dan perkapalan naik sangat signifikan. Saya yang terlalu nafsu waktu itu menambah porsi SMDR di 3800 sehingga sempat menyentuh 65% porto saya, dengan harapan katalis Q2 bagus dan stocksplit. Harapannya ya sell di 4500. Bisa dibilang saya FOMO. Ingat kan pas akhir Juni berita positif dimana mana?


Namun ternyata sahamnya mulai turun di bulan Juli, dan diakhiri dengan ARB berjilid disaat perusahaan memutuskan DPS 50. Saya akhirnya lepas bertahap SMDR di harga bawah. Ya bisa dibilang porto saya turun 1M lebih. Nominal yg sangat signifikan bila dibanding income bulanan saya. Mules? Tentunya. 


Mengapa saya sell? Karena ingat ini cyclical. Bila kita telat sell bisa senasib dengan Top Glove. Harga sahamnya turun dari 10 ke 0,8 (gambar terlampir) dikarenakan revenue kuartal sekarang 1/3 revenue peak quarternya. Saya pas Maret ada lirik Top Gloge ini, dikarenakan PE nya pada saat itu hanya 2x (harganya 2). Murah sekali bukan? Wait, tunggu dulu. Itu kan berdasarkan past performance. Saat ini harganya yg sudah turun ke 0,8 malah mencerminkan PER 9x. 


Apakah ada alasan untuk hold? Concern pertama adalah dari segi freight rate.

1. Kritik paling umum yang saya temui sejak bulan Mei adalah World Container Index yang mulai menurun dikarenakan supply chain crisis yang sedikit membaik. Rate nya sempat 10.000 saat peak dan sekarang di 6.300. Namun SMDR mainnya di Asia Tenggara, India, dam China kan? Jadi index yang lebih akurat adalah China Container Index.

2. Namun China Container Index yang pada saat itu masih bertahan kokoh di 3200 (dibanding peak nya di 3600), akhir akhir ini mulai turun hingga skrg berada dibawah angka 3.000.

3. Manajemen berkata no problem, malah rate SMDR masih blum ada penurunan sama sekali. Apalagi karena perusahaan mengunci kontrak di harga atas dalam jangka lama. 


Kembali harus kita review perkataan manajemen tersebut. Kalau saya sedikit skeptis karena berfikir dari sisi customer. Apakah customer mau kunci kontrak di harga atas untuk 3 tahun ketika harganya sedang peak? Atau prefer kontrak short term yang mahal dikit gapapa la, lalu tunggu harga rate turun baru kunci kontrak jangka panjang? Ya cuma semoga omongan manajemen tsb benar. Kita doakan yg terbaik saja untuk mereka.


Lalu concern berikutnya adalah kelangkaan container yang perlahan membaik. Sudah jarang berita container langka seperti dulu. Meskipun saat ini SMDR full book hingga nolak nolak customer, pertanyaannya adalah sampai kapan? Bila bisa stay high 2 tahun kedepan, maka harga skrg sangat menarik. Namun peluangnya kok agak 50/50 gitu ya. Mendingan yg Q2,3 nya bakal surprisingly bagus tapi LK nya telat mulu. 


Plusnya apa? 

Plusnya ya cash perusahaan ada sebejibun dimana uang itu katanya mau digunakan untuk ekspansi, sehingga setelah cycle container habis, perusahaan tetap bisa berkinerja lumayan la. Sebetulnya ini keputusan yang lebih tepat dibanding dipaksa membagi dividen. Karena gimanapun juga longetivity perusahaan lebih penting bukan? Lalu valuasi sekarang tidak bisa dibilang mahal. Ingat Q3 dia masih akan bagus, ditambah ada katalis stock split (valuasi KJPP dilakukan based on kinerja 22H1 yang wonderful). 


Sekian untuk tulisan kali ini. Ringan ringan saja di hari Minggu. Terima kasih dan sampai jumpa dilain kesempatan.

Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023