Update ISSP 22Q2

Tahun lalu ISSP termasuk saham yang sempat ramai. Bagaimana tidak, kinerja perusahaan yang selama ini kurang baik dengan ROE dibawah 6%, tiba tiba membukukan kinerja peningkatan kinerja signifikan sehingga menarik banyak perhatian. Saya pribadi sempat masuk di harga 300 pada September 2021 dan tidak sampai sebulan harga sahamnya sempat tembus 500-an seiring kinerja 21Q3 yang sangat baik. Namun sekarang harga sahamnya sudah kembali dibawah 300 sehingga muncul pertanyaan apakah ISSP menawarkan opportunity? Namun sebelumnya jangan lupa like and follow, saya lagi ngejar 6.000 followers. Here we go.


21Q4 Mengecewakan

Perusahaan termasuk lelet merilis LK Q4 dan ketika LK nya rilis hasilnya bisa dibilang jelek. EPS 27 di Q3 turun menjadi 6 di Q4. Padahal secara pendapatan tergolong sangat baik, yang artinya ada peningkatan beban signifikan. Manajemen perusahaan beralasan ada 3 penyebab dari hal tersebut:


-Beban pengiriman ekspor yang meningkat. Ini tidak makes sense mengingat porsi ekspor perusahaan hanya 10%, dan juga biaya pengiriman seharusnya ditanggung oleh pembeli.


-Beban pajak yang tinggi di Q4. Jadi singkatnya bila kepemilikan publik pada suatu emiten diatas 40% maka emiten tersebut berhak mendapat diskon pajak 3%. ISSP mengira kalau mereka akan mendapat privilege tersebut dikarenakan kepemilikan pihak luar 42% (7% DBS, 35% publik). Namun hal tersebut ternyata tidak bisa, karena yang diperhitungkan hanyalah kepemilikan publik. Akibatnya beban pajak kini yang bernilai 21% (116M/ 552M) pada 21Q3 naik menjadi 24% (160M/ 659M) di 21Q4. Jadi pada Q4 alone perusahaan mencatatkan beban pajak 44M, dibandingkan laba sebelum pajak 107M (41% nya). Menurut saya ini konyol.


-Beban administratif penerbitan obligasi. Ini juga kurang makes sense.


22Q1 Story

Oiya pada saat yang sama manajemen memaparkan kalau penjualan 22Q1 very good karena banyak orderan yang minta dikirim pas Maret. Alasannya agar terkena PPN 10% mengingat PPN naik menjadi 11% saat 1 April. Namun nyatanya kalau dilihat sekilas kinerja Q1 tergolong biasa aja. Apakah benar? Padahal revenue perusahaan betul naik banyak sesuai perkataan manajemen lo. Revenue Q1 naik, laba kurang bagus. Apakah ada kesulitan pass on?


Kemampuan Pass On

Bisnis model perusahaan adalah membeli baja gulungan dari KRAS dkk, dan diolah menjadi pipa baja. Sama seperti PGAS hal terpenting yang perlu kita perhatikan bukanlah harga jualnya, melainkan spread antara harga beli dan harga jual. Dalam hal ini saya menyajikan data per kuartal penggunaan bahan baku/ revenue. 


-21Q1: 730/ 1,07/ 68,2%

-21Q2: 740/ 1,12/ 66,1%

-21Q3: 1,17/ 1,62/ 72,2%

-21Q4: 1,14/ 1,57/ 72,6%

-22Q1: 1,65/ 2,01/ 82,1%

-22Q2: 0,85/ 1,15/ 74%


Dari angka diatas, apakah anda melihat sesuatu yang concerning? Jawab sendiri ya. Menurut anda apa penyebabnya? Jawab sendiri juga ya. Bagaimana dapat data per kuartal, ya tinggal kurangkan saja. Misal Q3 only= LK Q3- LK Q2.


Kesimpulan

Pertama secara business model saya kurang tertarik dengan ISSP ini. Kedua saya juga kurang suka dengan manajemennya yang terkesan melakukan beberapa blunder. Ketiga secara gearing ratio 65% tergolong oke, namun cash nya yang seret kurang saya sukai. Alasannya adalah perusahaan tiap ada uang selalu melunasi line of creditnya. Keempat secara CCC perusahaan di 272 hari kurang menarik (idealnya <180). Kelima secara valuasi saya menilai harga sekarang sudah fairly valued. Karena kelima alasan diatas saya pribadi belum tertarik untuk masuk ISSP saat ini. Sekian dan terima kasih.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)