Ada Apa Dengan WSKT? Mari Kita Bedah

Di bulan Februari 2023, kita sempat dihebohkan dengan suspend saham WSKT (meski kemarin sudah dibuka lagi). Bagaimana tidak? Emiten yang satu ini sangat ternama, bukan hanya di kalangan investor. Dan dengan asetnya yang 100T tentu ini perusahaan skala jumbo. Pada artikel ini, kita akan membahas 2 hal yaitu kondisi laporan keuangan perusahaan, dan juga perusahaan perbankan yang kemungkinan terkena dampak.

Balance Sheet

Liabilitas terbagi menjadi hutang berbunga dan tidak berbunga. Dalam kasus WSKT, as of 22Q3 perusahaan memiliki hutang berbunga 65T. Bila dibandingkan ekuitas 17,5T, kita bisa mendapatkan gearing ratio 371%. Sebagai patokan bila gearing diatas 100%, maka kita perlu agak berhati hati. Dengan hutang sebesar itu, bila kita asumsikan konservatif yaitu suku bunga 7%l tahun, maka perusahaan harus menanggung beban bunga 4,55T setiap tahunnya. Angka ini sangat signifikan bila kita bandingkan dengan gross profit perusahaan beberapa tahun terakhir. 

-2022: 1,3T (annualized)

-2021: 1,9T

-2020: -2,0T

-2019: 5,6T (peak cycle)

-2018: 8,9T (peak cycle)

-2017: 9,5T (peak cycle)

Sebenarnya dari besar hutang tersebut, WSKT sudah kurang menarik. Ingat setelah anda dapat grosa profit, anda masih harus membayar biaya seperti selling expense, general and administrative expense, beban bunga, dll. Maka bisa kita bilang perusahaan butuh gross profit setidaknya 7T hanya untuk cover berbagai biaya tersebut.


Revenue Menurun

Sekarang mari kita lihat dari segi revenue. Saya akan lampirkan revenue, gross profit, dan gross profit margin perusahaan untuk 2022 hingga 2017. 

-2022: 13,7 / 1,3/ 9,5%

-2021: 12,2/ 1,9/ 15,6%

-2020: 16,2/ -2,0/ -12,3%

-2019: 31,4/ 5,6/ 17,8%

-2018: 48,8/ 8,9/ 18,2%

-2017: 45,2/ 9,5/ 21,0%

Masalah utama disini adalah omzet perusahaan yang turun cukup drastis. Salah satunya dikarenakan kontrak baru yang diperoleh, jauh lebih sedikit dibanding periode dulu. Yakni 20,2T untuk 2022, dibanding 55,8T untuk 2017. Hal serupa juga terjadi pada emiten konstruksi lainnya. Bedanya, WSKT ibarat terkena double hit karena perusahaan memiliki hutang jumbo. 


Free Cash Flow

Bisnis yang baik bisa menghasilkan free cash flow yang selalu positif. Even better bila nilainya besar dan terus naik. Free cash flow disini dihitung dengan mengurangkan OCF dan ICF. Ibaratnya sisa uang dari operasi, setelah memperhitungkan maintnance dan growth capex perusahaan. Untuk WSKT sendiri angkanya sebagai berikut:

-2022: -5500M (annualized)

-2021: -1349M

-2020: -645M

-2019: -5.911M

-2018: -15.733M

-2017: -13.279M

Bisa dilihat kalau FCF perusahaan selalu negatif, bahkan angkanya sangat besar. Dari sini kita bisa lihat meskipun tahun 2017-2019 merupakan peak cycle perusahaan, namun faktanya perusahaan banyak mengalokasikan uangnya untuk investasi, sehingga FCF nya menjadi negatif. Hal ini diperparah dengan fakta kalau di tahun 2017-2019, perusahaan terus menambah hutang jumbo dari bank. Yang berarti anda ngutang ke bank, untuk investasi ke aset seperti jalan tol, lalu hasilnya tidak sesuai harapan, and anda stuck dengan beban bunga tersebut hingga saat ini.


Apa Dampaknya?

Bila membahas dampak dari suspend WSKT, meski sementara, saya terpikirkan akan 2 hal yaitu emiten konstruksi lainnya serta perbankan yang ngutangin WSKT. Untuk emiten konstruksi lainnya, tentu hal tersebut mengkibatkan turunnya trust pada sektor konstruksi dikarenakan konotasi negatif yang muncul (padahal belum tentu mereka salah). What's next and who's next, itulah perbincangan yang muncul. Sedangkan untuk emiten perbankan seperti BBRI, BMRI, BBNI, BRIS kemungkinan harus mencadangkan sebagian CKPN. Meskipun kreditnya masih berjalan, namun bila ada indikasi akan macet, maka bank akan bertindak cepat dan melakukan pencadangan, yang akan mengurangi laba in the short run. 


Saya rasa sekian dulu untuk hari ini. Selamat beraktivitas dan Tuhan memberkati.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)