Peluang Profit dari Sektor CPO (Lesson 3: Case Study AALI)

Anda sedang membaca artikel ketiga dari seri "Peluang Profit dari Sektor CPO". Untuk mengakses artikel lainnya, anda bisa klik link dibawah ini:

-Lesson 1: Introduction and Business Process
-Lesson 2: Leading Indicators and Prospects
-Lesson 3: Case Study AALI
-Lesson 4: Case Study LSIP
-Lesson 5: Case Study SGRO
-Bonus: Case Study TBLA

Astra Agro Lestari (AALI) adalah anak usaha Astra Intenational di bidang perkebunan dan telah berdiri selama lebih dari 30 tahun. Saat ini perusahaan diperdagangkan pada harga 9500/ lembar, hampir setengah dari harganya 5 tahun lalu. Padahal dalam 5 tahun terakhir perusahaan berhasil mencatatkan kenaikan revenue yang cukup signifikan, dari 14T di tahun 2016 menjadi 24T (annualized) di tahun 2021. Sayangnya kenaikan revenue tersebut tidak diiringi kenaikan laba, dimana perusahaan sempat mengalami penurunan ROE, sebelum kembali recover menjadi 10% di tahun 2021. Bagi anda yang belum tahu, ROE menggambarkan seberapa handal perusahaan menghasilkan laba dari modal yang ada, dengan patokan idealnya berada diatas 10%. Secara valuasi perusahaan cukup menarik karena diperdagangkan pada PER 9,4x dan PBV 0,92x, ditambah manajemen perusahaan yang merupakan bagian dari grup Astra yang bisa dibilang one of the best di Indonesia. Oleh karena itu, mari kita mempelajari AALI lebih dalam.


AALI memiliki lahan perkebunan seluas 288 ribu Ha dan pabrik pengolahan yang tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Secara kepemilikan, 75% dari lahan tersebut merupakan lahan inti milik perusahaan dan sisanya merupakan lahan plasma hasil kerja sama dengan warga setempat. Tanaman perusahaan terbagi menjadi belum menghasilkan (<4 tahun) sebesar 7%, tanaman produktif (4-15 tahun) sebesar 46%, dan tanaman tua (>15 tahun) sebesar 47%. Secara keseluruhan, umur rata rata tanaman sawit perusahaan adalah 15,5 tahun.

Pada tahun 2020 perusahaan menghasilkan 4,63 juta ton TBS dan melakukan pembelian eksternal sebanyak 2,61 juta ton, yang kemudian diolah menjadi 1,43 juta ton CPO dan 303 ribu ton Kernel. Dari angka tersebut kita dapat menghitung rasio produktivitas tahun 2020 yaitu yield TBS sebesar 17,36 ton/Ha, yield CPO sebesar 3,43 ton/Ha, extraction rate CPO dan Kernel sebesar 19,74% dan 4,18%. Untuk tahun 2021, perusahaan diproyeksi akan menghasilkan 4,4 juta ton TBS dan 1,48 juta ton CPO. Penurunan panen TBS ditutupi dengan menaikan porsi pembelian dari petani lokal agar dapat menghasilkan CPO sesuai kebutuhan.


Dari segi kinerja, 91% pendapatan perusahaan disumbang dari CPO dan sisanya disumbang dari Kernel. Sayangnya dalam beberapa tahun terakhir perusahaan terus mengalami penurunan produksi TBS, yang mengakibatkan terjadinya penurunan pada produksi CPO dan Kernel. Meskipun begitu profitabilitas perusahaan membaik pada tahun 2020 dan 2021 dikarenakan average selling price yang naik dari 7.275 di 2018, 6.689 di 2019, 8.545 di 2020, menjadi Rp 11.160/Kg di 2021 seiring dengan terjadinya kenaikan harga CPO. Untuk kedepannya penulis menilai volume penjualan akan stagnan dan ASP akan berfluktuasi di area sekitar 10.000/Kg, yang menjadikan EPS jangka panjang disekitar 850.



Sebagai kesimpulan penurunan harga AALI dalam 5 tahun terakhir disebabkan volume produksinya yang tidak terlalu berkembang dan ASP nya yang terus turun. Meski begitu, pada tahun 2021 dan seterusnya diperkirakan harga CPO yang akan stabil diatas RM 4000/ton akan berdampak pada ASP AALI yang tinggi. Penulis menilai harga wajar AALI adalah 9000 yang berarti harga sekarang bisa dibilang kurang menarik. Sekian untuk artikel kali ini. Pada kesempatan berikutnya kita akan membahas emiten sawit grup Indofood yaitu LSIP. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa dilain waktu.


Salam Cuan,

Filbert

Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023