Turnaround Opportunity PT Mulia Industrindo (MLIA)

Bila anda pernah membaca terkait Pak Lo Kheng Hong (LKH), tentu anda tidak asing dengan returnnya yang ratusan bahkan ribuan persen pada beberapa saham. Tentu angka tersebut sangat menggiurkan, apalagi bila dibandingkan dengan penulis yang asalkan bisa konsisten mendapatkan return 20% saja sudah bagus (bila diberi lebih, dengan senang hati saya syukuri). Lantas saham tipe apakah yang beliau invest sehingga bisa memberi return yang menakjubkan tersebut? Jawabannya adalah perusahaan tipe cyclical dan turnaround. 


Anda bisa baca lagi di 6 Types of Company (Value Investing: Lesson 2), yang intinya mengatakan kalau saham cyclical dan turnaround menawarkan peluang profit ratusan persen, bila kita masuk disaat yang tepat dan sabar. Bila anda berinvestasi di perusahaan cyclical, kuncinya adalah beli ketika siklusnya sedang dibawah, sabar menunggu, dan jual ketika siklusnya diatas. Sedangkan untuk perusahaan turnaround bisa dibilang lebih sulit. Anda perlu mengidentifikasi perusahaan yang sedang kesulitan, dan memiliki conviction (keyakinan) kalau suatu hari perusahaan tersebut bisa keluar dari keterpurukan dan menikmati hari cerah. 

Teorinya sederhana, namun prakteknya sangat sulit. Itulah sebabnya penulis sendiri selalu menunggu konfirmasi 3 kuartal dengan kinerja memuaskan, sebelum akan mempertimbangkan untuk masuk. Meski peluang profitnya lebih terbatas, namun risikonya juga jauh lebih rendah. Disinilah kita sampai pada PT. Mulia Industrindo. Bila selama ini industri kaca tidak pernah manggung karena kinerjanya yang kacau balau, pada tahun 2021 MLIA berhasil melakukan turnaround. Perusahaan mencatat laba 635M untuk tahun 2021 dan saat ini dihargai dengan Market Cap 2,7T. Angka tersebut melambangkan PER 4,25x, murah banget. Belum lagi untuk tahun 2022 perusahaan diproyeksikan mengalami kenaikan laba menjadi 691M. Sunggu menarik bukan? Mari kita ulas bersama.


PT Mulia Industrindo (MLIA) merupakan pemain kaca no 2 terbesar di Indonesia dengan market share 40%, dibelakang Asahimas (AMFG) dengan market share 60%. Lini produk MLIA terbagi menjadi 4. Pertama adalah float glass, yang berkontribusi terhadap 63% pendapatan perusahaan. Float glass biasa digunakan untuk bangunan kaca. Kedua adalah bottle (20%) yang digunakan pada botol kecap dan tomat. Ketiga adalah glass block (13%) yang digunakan pada kaca toilet. Dan yang terakhir adalah automotive safety glass (4%) untuk kaca mobil. Penjualan produk pun didominasi oleh penjualan lokal, dengan rasio domestik banding ekspor 70:30. 


Pada gambar diatas bisa dilihat pendapatan perusahaan dari tahun 2018 sampai 2022 (proyeksi). Bisa dilihat bahwa pada tahun 2021 perusahaan mengalami kenaikan penjualan 20% yang merupakan penyebab utama perusahaan berhasil membukukan laba signifikan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Namun bila ditelusuri volume penjualan perusahaan relatif konstan selama periode 5 tahun tersebut. Lantas apa penyebab perusahaan membukukan kenaikan kinerja? Jawabannya adalah kenaikan ASP (average selling price). ASP perusahaan yang bernilai 4,9 juta/ton pada tahun 2020 berhasil naik menjadi 5,6 juta/ton di tahun 2021 dan diproyeksi akan menjadi 6 juta/ton di tahun 2022. Ditambah lagi efisiensi perusahaan dari segi cost energi (gas) yang memakan 25% porsi COGS. Good newsnya industri kaca termasuk industri spesial yang bisa menikmati harga gas $6/ MMBTU (harga gas pasaran di eropa diatas $10/ MMBTU). 

Tentu bila dilihat sekilas, dengan valuasinya yang super murah dan kinerja 2022 diproyeksikan bagus, maka MLIA is a good buy bukan? Wrong. Sebagai investor yang kritis kita harus bisa menjadi detektif. Kita harus menanyakan seperti apa penyebab ASP tersebut naik? Dan apakah sustainable? Jawabannya adalah supply and demand. ASP kaca naik dikarenakan stock di china berkurang drastis dari yang biasanya 1500 an ribu ton menjadi 969 ribu ton di tahun 2021 dan 225 ribu ton di tahun 2022. Namun inventory tersebut diperkirakan akan stabilize ke range 1000 an ribu ton ditahun ini, yang mengakibatkan ASP akan tertekan untuk tahun 2023 onwards. Ketidakpastian ini membuat penulis tidak memiliki conviction yang kuat terhadap MLIA. 

Selain itu red flag lainnya bisa ditemukan pada laporan keuangan MLIA. Bila ekuitas perusahaan pada umumnya terdiri dari modal disetor dan saldo laba, MLIA malah kebalikannya. Dari ekuitasnya yang bernilai 3,1 T, 2,9 T diantaranya berasal dari "penghasilan komprehensif lainnya". Pos tersebut berasal dari surplus revaluasi. Yup bila umumnya perusahaan mencatatkan tanah pabrik berdasarkan nilai historis (cost basis), dikarenakan MLIA rugi besar pada jaman dahulu yang mengakibatkan ekuitas dan saldo labanya negatif, maka MLIA perlu melakukan revaluasi agar ekuitasnya tampak positif. 

Sebagai kesimpulan dikarenakan alasan yang telah diuraikan diatas, penulis sendiri kurang tertarik dengan MLIA, meskipun perusahaan memiliki kinerja bagus pada tahun 2021 dan 2022. Namun penulis mengenal beberapa orang yang sangat bullish terhadap MLIA. Kembali semua kembali ke opini dan gaya investasi masing-masing. Untuk artikel berikutnya, kita akan membahas asset play opportunity dari AMFG, yang merupakan saingan MLIA itu sendiri. So stay tuned.

Salam Cuan,
Filbert 






Comments

  1. Izin bertanya pak, grafik batang revenue & data ASP tersebut sumber referensinya dari mana ya? Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari Pak Henry Bun (direktur MLIA), saat pemaparan emiten.

      Delete
    2. Untuk dapat file seperti itu berarti harus ikut public expose ya pak?

      Delete
    3. Bisa minta saya aja. Chat saya via stockbit de.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Pengalaman Jatuh Bangun 2023

Dilemma (Case Study)

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)