Stock Busuk!!! Case Study PMMP dan ARNA

Investor pada umumnya terbagi menjadi 2. Disatu sisi ada investor yang menganggap laporan keuangan sangat penting karena dapat membantu kita memahami nature bisnis dan kinerja historis perusahaan. Dilain sisi ada juga investor yang menganggap laporan keuangan tidaklah penting, karena merupakan lagging indicator (menceritakan masa lalu). Memang benar laba/rugi perusahaan yang terlampir pada LK merupakan masa lalu, namun kita juga bisa mendapatkan gambaran mengenai masa depan perusahaan melalui LK. Welcome to the magic of inventory. Mari kita mulai dengan analogi toko kue.



Analogi Toko Kue
Misalkan anda memiliki toko kue. Persediaan anda terbagi menjadi 3 yaitu bahan baku, work in process, dan barang jadi. Pada hari Jumat, anda memprediksi akan terjadi lonjakan permintaan di weekend. Tentu anda akan menyetok bahan baku dalam junlah banyak, yang kemudian akan anda olah menjadi barang jadi pada Sabtu pagi. Weekend telah berlalu dan ternyata pada Senin pagi, tersisa banyak barang jadi di toko anda. Apa artinya? Yup, artinya adalah barang jadi yang sudah dipersiapkan ternyata tidak laku dan akhirnya menjadi stock barang jadi yang menumpuk. Ini artinya toko anda mulai kesulitan dalam menjual kue dan merupakan red flag yang harus diwaspadai. 


Case Study PMMP
Penulis merupakan fans fanatik PMMP. Dari sahamnya 300 an, sampai sempat naik ke 600 an, sebelum turun kembali ke 450, saya setia hold karena percaya dengan prospek perusahaan. Bagaimana tidak? Track record growth perusahaan di masa lalu sangatlah memuaskan dan valuasinya juga murah. Anda bisa baca lagi pada artikel Prospek PMMP. Namun saya keliru dan memutuskan exit kemarin, ketika perusahaan merilis LK Q4 yg mengecewakan.


Red flags di PMMP ada 2 yaitu hutangnya dan inventory nya yang tinggi. Penulis mencoba menjustified kelemahan tersebut sebagai berikut. Hutang PMMP bunganya sangat rendah di angka 5,5% dan digunakan untuk membeli bahan baku ketika harganya murah. Inventory perusahaan tinggi (15 bulan) karena diharuskan client nya di AS untuk menjamin kelancaran supply. Disinilah masalahnya. Meskipun inventory PMMP sekilas terlihat sama dengan tahun lalu, stock barang jadi PMMP naik 50%. Dan berdasarkan analogi toko kue diatas, you know apa artinya. Dan ingat meskipun disimpan di cold storage, apakah masuk akal bila perusahaan memiliki stock barang jadi 5 bulan? Kualitas produk tentu akan menurun dan ada kemungkinan harus di write off bila semakin menumpuk di kemudian hari. 
Persediaan PMMP


Hal serupa juga pernah terjadi di ARNA. Di LK 2014, terjadi peningkatan barang jadi 60% yang diikuti penurunan bahan baku 20%. Hal tersebut mengindikasikan demand perusahaan menurun, sehingga manajemen tidak mengkumulasi bahan baku tambahan. Dan benar kinerjanya di tahun 2015 dan 2016 turun banyak, yang mengakibatkan sahamnya ikut turun, sebelum manajemen berhasil memperbaiki perusahaan hingga profit besar saat ini. 
Persediaan ARNA


Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, persediaan merupakan indikator LK yang juga perlu kita telusuri lebih dalam. Sebelumnya penulis terlalu bias dengan PMMP sehingga mengabaikan red flags tersebut, sebelum akhirnya tersadarkan oleh LK 2021 perusahaan. Penulis masuk di harga 380 dan memutuskan exit di harga 430. Enaknya value investing ya itu, even when you're wrong, you still make money dan kalau rugi pun biasa kecil. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di lain kesempatan.


Salam Cuan,
Filbert


Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023