Prospek Saham PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD)

WOOD merupakan salah satu emiten fast grower di bursa. Lihat saja EPS nya yang naik dari 34 pada tahun 2019 menjadi 130 pada tahun 2022 (Annualized). Menariknya hal yang sebaliknya terjadi pada harga sahamnya yang dulu sempat menyentuh 980, namun sekarang berada di angka 560/ lembar. Laba naik 4x namun harga sahamnya malah turun 40% an lebih, artinya apa? Yup, PER nya yang dulu mendekati 30x sekarang hanya 4,31x. Tentu emiten ini pantas untuk kita bahas lebih dalam, termasuk baik dan buruknya. Here we go. 

Overview

WOOD merupakan perusahaan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Perusahaan memiliki hak konsesi 2 hutan, dimana kayu yang ditebang akan dikirim ke pabrik untuk diolah menjadi barang jadi, sebelum dikirim ke customer. Secara produk revenue dari WOOD disumbangkan oleh 3 lini produk yaitu building components (74%), set up (13%), dan knock down (13%). Produk itu mayoritas dijual ke US (92% revenue). Nah dari sini penting untuk kita cek apakah WOOD bergantung pada 1 atau beberapa customer besar. Karena bila iya, ketika kontraknya putus, habis lah kita (seperti KICI 22Q1). Nah kebetulan WOOD customernya cukup terdiversifikasi sehingga dari sini aman. 


Cyclical or Fast Grower?

Apakah WOOD perusahaan cyclical yang diuntungkan oleh kenaikan harga lumber 2 tahun terakhir (lihat foto dibawah)? Karena bila iya, harga lumber yang sekarang sudah turun 1/2 tentunya akan berdampak negatif bagi kinerja WOOD dimasa mendatang. Untungnya jawabannya adalah tidak. Bagaimana cara tahunya? Karena NPM perusahaan sejak 2017-2022 stabil di angka yang sama. Coba saja anda bandingkan dengan emiten cyclical seperti MEDC dan ITMG yg NPM nya sangat berfluktuatif. 


Earnings Forecast

Dari sini kita enak. Ingat kalau net profit= sales* NPM. Maka bila kita ingin memprediksi laba perusahaan dimasa mendatang, kita cukup memproyeksikan salesnya. Berhubung NPM nya stabil, bila sales perusahaan naik 30%, maka laba WOOD juga akan naik 30%. Simple bukan? Nah disini kita mau lihat dari 2 sisi yaitu dari kapasitas pabrik dan dari segi customer.


Secara kapasitas pabrik, perusahaan rutin (dan masih) berkespansi dari tahun ke tahun. Luas pabrik untuk basic components meningkat dari 127.000 (2018) menjadi 389.000 (2022). Sedangkan untuk furniture meningkat dari 41.000 (2018) menjadi 50.000 (2022). Tentu dari sini kita tidak heran bila pendapatan perusahaan tumbuh secara drastis bukan? Toh kapasitasnya saja naik gila gilaan.


Bagaimana dengan demand customer? WOOD ini bisa dibilang being in the right place at the right time. Perang dagang US-China (sejak 2018) mengakibatkan banyak dikenakannya sanksi dan tarif tambahan terhadap produk China yang ingin masuk US, including furniture. Akibatnya market US mencari supplier baru diluar China, dan kebetulan Indonesia salah satunya.  Sebagai gambaran berikut adalah besaran ekspor kayu ke US:

-China: 365 juta (2018), 142 juta (2021)

-Brazil: 417 juta (2018), 612 juta (2021)

-IDN: 20 juta (2018), 139 juta (2021)

-Total: 1365 juta (2018), 1936 juta (2021)


Gearing Ratio

As of 22Q1, rasio hutang berbunga WOOD dibanding ekuitas berada di angka 67%. Angka ini not bad, namun not good, ya biasa saja lah. Meski secara gearing ratio terkesan WOOD sehat secara keuangan, masalah utama WOOD ini bukan di hutang berbunga, namun di OCF nya. 


OCF

Tidak ada company yg sempurna. Bila ada, most likely tidak cantik secara valuasi (yg menjadikannya tidak sempurna juga). Hal yg sama terjadi pada WOOD ini. Concern pertama dan yg paling sering dibicarakan adalah OCF nya yang sering negatif dalam 5 tahun terakhir. (Operating Cash Flow menandakan kemampuan suatu perusahaan menghasilkan kas melalui operasi day to day. Idealnya always positif). Padahal katanya labanya besar dan naik trus, kenapa malah OCF nya minus? 


CCC

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut mari kita hitung CCC FY21 perusahaan (bagi yg belum tahu, bisa lihat artikel Mengenal CCC. DIO= 272 hari (ouch), DSO= 48 hari, DPO= 18 hari, sehingga CCC= 302 hari. Angka tersebut kurang bagus karena idealnya dibawah 180 hari. Mari kita dalami lebih lanjut terkait akun persediaan dn piutang WOOD ini.


1. Persediaan 

Persediaan yang meningkat hanya bisa dijustified oleh bertumbuhnya penjualan perusahaan. Karenanya saya akan memaparkan DIO perusahaan beberapa tahun terakhir.

-2021= 272 hari

-2020= 388 hari

-2019= 466 hari

-2018= 384 hari


2. Piutang 

Sama dengan persediaan, piutang yang meningkat hanya bisa dijustified oleh bertumbuhnya penjualan perusahaan. Karenanya saya akan memaparkan DSO perusahaan beberapa tahun terakhir.

-2021= 48 hari

-2020= 85 hari

-2019= 160 hari

-2018= 80 hari


Dari sini bisa disimpulkan meski DIO dan DSO perusahaan tidak menarik, namun sudah ada indikasi perbaikan dibandingkan periode sebelumnya (yang jauh lebih parah). 


Conclusion

Bila anda bisa mentoleransi hal tsb dan percaya perusahaan dapat terus mengoptimalkan CCC nya dimasa mendatang, maka anda bisa mempertimbangkan untuk memasukan WOOD ke portofolio anda. Karena toh growth story nya menarik dan valuasinya murah kan. Bila suatu hari dihargai PE 10x saja, maka harga sahamnya 1300/ lembar. Sama kelemahan lainnya adalah dari segi dividen. Namun mempertimbangkan ekspansi perusahaan, dan juga OCF yang gitu deh maka hal tersebut sebetulnya wajar. 


Oiya fun fact, orderan WOOD sudah full book sampai Oktober 2022 loo. Saya sendiri saat ini tidak ada posisi di WOOD ya btw. Selamat malam dan Tuhan memberkati.

Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023