When to Sell? Case Study GGRM, WIKA, PTBA, MAPA

Bila pada artikel When to Buy, Hold, and Sell penulis menjabarkan skenario yang tepat untuk sell, pada artikel ini penulis akan sharing case study dari aplikasinya. Penulis akan membahas alasan saya menjual GGRM, WIKA, PTBA, dan MAPA. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan anda. 

1. GGRM

GGRM merupakan saham kesayangan penulis sejak 2020. Kapan lagi ada bisnis yang customernya sangat setia (karena addicted), dan tetap beli meskipun harganya naik setiap tahunnya. Isu cukai rokok yang naik hampir setiap tahunnya pun tidak menjadi masalah bagi perusahaan. Bila cukai naik, perusahaan tinggal menaikan harga jualnya dan selama daya beli masyarakat ada, maka tidak akan jadi masalah. Oleh karenanya dari tahun 2011-2020, pendapatan perusahaan bertumbuh dari 40 T menjadi 112 T. Karena pertimbangan tersebut penulis pertama masuk di harga 43.000, lalu average down lagi di harga 38.000 dan 35.000 (saya menilai harga wajar 60.000 dengan asumsi EPS bisa kembali ke 5.000). Sayangnya asumsi diatas keliru. Ketika perusahaan merilis LK 21Q2, laba perusahaan pada kuartal tersebut turun menjadi 1/3 normalnya. Dan sayangnya yang ditakutkan beneran terjadi. Karena adanya covid, daya beli masyarakat melemah, sehingga beberapa masyarakat memutuskan untuk mengurangi konsumsi rokok atau beralih ke rokok murah. Alhasil manajemen GGRM tidak fully pass on kenaikan cukai pada tahun 2020 dan 2021 (demi menjaga market share), yang kemudian menekan kinerja perusahaan. Pada saat itupun penulis memutuskan untuk cut loss di harga 35.000 (dan juga mendapat dividen 2.600). Kerugian tersebut hingga hari ini merupakan kerugian terbesar penulia secara nominal (meskipun secara persen ruginya hanya 10%).


2. WIKA

Alasan saya menjual WIKA adalah story nya telah berubah. Bila pada Oktober kemarin WIKA sempat menyentuh 1440 dan saya mengatakan saya akan hold hingga 1800 pada Peluang Profit dari Sektor Konstruksi (Lesson 4: Case Study WIKA), ada 2 hal yang mendasari keputusan tersebut:

1. Emiten konstruksi selalu membukukan kontrak baru jumbo di Q4, disertai dengan penyelesaian banyak proyek yang mengakibatkan pendapatan dan labanya naik signifikan.
2. Story Ibukota Nusantara (IKN) yang harusnya membuat emiten konstruksi kebanjiran proyek.
3. Prospek SWF dimana emiten konstruksi dapat menjual kepemilikan aset (seperti jalan tol) mereka. Hal ini akan menyehatkan kondisi keuangan WIKA dkk.

Sayangnya ketiganya ZONK, alias jauh dari ekspektasi. Manajemen yang optimis mampu meraih kontrak baru 40T, nyatanya hanya mampu meraih 26T. Kinerja Q4 WIKA meskipun pendapatannya naik, namun labanya cukup memprihatinkan. Kedua, IKN yang awalnya diminati banyak investor, perlahan mulai ditinggali. Softbank (Jepang) dan 2 investor dari Arab telah memutuskan untuk mundur dari project tersebut dimana hal tersebut merupakan bad news. Terakhir meskipun SWF sudah berjalan, dampaknya terhadap WIKA bisa dibilang nyaris tidak ada so far. Karena alasan tersebut penulis memutuskan untuk sell di harga 1010 dan switching ke ICBP yang sedang terdiskon. Enaknya value investing, bahkan worst case disaat realita jauh dari ekspektasi pun kita tetap untung (meski sedikit).


3. PTBA
Bila pada artikel Batubara to the Moon!!! Apakah Masih Boleh Masuk? penulis mengatakan kalau saya ada posisi lumayan besar di PTBA dan ABMM, saya memutuskan untuk melakukan switching dari PTBA ke BSSR. Meski saya optimis tahun ini laba PTBA akan naik signifikan dibanding tahun lalu (yang sudah tinggi), upside PTBA saat ini lebih limited dibanding BSSR, karena valuasi BSSR yang lebih undervalued. Saya sendiri merasa harga wajar PTBA adalah 4300 sedangkan BSSR di 6000. Selain itu, profil negara tujuan PTBA di dominasi oleh lokal (45%), sedangkan BSSR hanya 24%. Dan tentu saya lebih suka bila perusahaan menjual ke China dibanding dalam negeri dikarenakan harga jualnya yang lebih menarik. Penulis sendiri cukup puas dengan investasi di PTBA selama satu setengah tahun ini, mulai dari akumulasi di harga 1960, sempat switching di harga 2700 ke DOID (profit lumayan), sebelum masuk lagi di harga lebih rendah, dan akhirnya melepas semua posisi diharga 3300. Ya semoga saja prediksi penulis akan kinerja BSSR betul tercapai dan sahamnya ikutan terbang. 

4. MAPA
MAPA ini salah satu investasi paling berkesan penulis. Bagaimana tidak, setelah saya masuk di harga 1725, dalam sebulan harganya langsung naik menuju 2800 dimana angka tersebut merupakan harga wajar MAPA menurut penulis. Dan tentu saya disiplin dan memutuskan take profit pada saat itu. Ditambah pada bulan Agustus mulai banyak pembatasan Covid seperti PPKM yang diberlakukan, seiring meningkatnya kasus delta, yang mengakibatkan kinerja MAPA Q3 seharusnya kurang memuaskan. Dan betul sahamnya tidak kemana mana, bahkan sempat turun sedikit, sebelum kembali ke posisi 2600 saat ini. Dana penjualan MAPA pada saat itu saya alihkan ke ISSP di harga 306 dan hingga hari ini keputusan tersebut merupakan tindakan yang tepat.

Sebagai kesimpulan kita harus bisa fleksibel dan menyesuaikan keadaan dengan update kinerja perusahaan, dan aktif mencari emiten lain yang undervalued. Namun satu hal yang selalu penulis lakukan adalah menanyakan pada diri sendiri, apa alasan saya beli waktu itu? Dan apakah alasan tersebut masih relevan saat ini. Sekian dan semoga bermanfaat.

Salam Cuan,
Filbert


Comments

Popular posts from this blog

Principles for Investing

6 Types of Company (Value Investing: Lesson 1)

Pengalaman Jatuh Bangun 2023